Langkah Jokowi Sebut Istilah Populer untuk Tarik Minat Politik Milenial

Langkah Jokowi Sebut Istilah Populer untuk Tarik Minat Politik Milenial
Joko Widodo. ( Foto: Antara )
Robertus Wardi / WM Senin, 1 April 2019 | 22:34 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat komunikasi politik Arif Susanto mengemukakan, di banyak negara, termasuk Indonesia, pembicaraan politik kerap dihindari kalangan tertentu karena dianggap rumit. Selain itu, dalam politik juga memosisikan secara berhadap-hadapan pandangan yang berlainan.

Karena itu, tingkat attentive public, yaitu kalangan yang sungguh-sungguh memberi perhatian pada berbagai isu politik dan menganggapnya bagaian penting kehidupan mereka, biasanya berjumlah kecil.

"Langkah Jokowi menggunakan istilah-istilah populer positif untuk menarik perhatian publik pemilih, terutama dari kalangan yang belum akrab dengan politik. Penguatan gema pesan semacam itu dapat disokong oleh pilihan cara penyampaian, situasi dan waktu penyampaian, serta hal-hal lain menyangkut pesan non-verbal, seperti gestur atau gaya dan warna pakaian," kata Arif, di Jakarta, Senin (1/4/2019).

Arif menjelaskan‎, pendekatan politik kepada kelompok muda memang menjadi suatu kebutuhan. Tidak sekadar terkait dengan kepentingan elektoral, melainkan pula terkait dengan kepedulian masa depan negara. Dalam sedikitnya sepuluh tahun ke depan, bangsa ini menikmati ‘bonus demografis’, di mana jumlah kelompok usia produktif akan dominan dengan berbagai potensi yang harus dimanfaatkan untuk kemajuan.

Menurut Arif, kelompok milenial memang cenderung skeptis terhadap peran lembaga-lembaga negara, tetapi mereka cenderung akrab dengan nilai-nilai demokrasi seperti kebebasan, kemajemukan, dan kesetaraan. Para politikus perlu mendorong kepedulian etis kalangan ini dengan cara-cara berpolitik yang kreatif dan memanfaatkan konektivitas mereka dengan internet berjangkauan global.

"‎Jika ini berhasil dilakukan, kita tidak hanya akan melihat meluasnya partisipasi politik di kalangan muda, tetapi juga lonjakan kualitas partisipasi mereka. Pada akhirnya, kehadiran generasi baru politik akan mendorong pembaran politik lewat gagasan-gagasan progresif mereka," tutur Arif yang juga dosen pada Universitas Paramadina Jakarta.



Sumber: Suara Pembaruan