PSI Sebut Tiga Alasan Optimistis Lolos ke Parlemen

PSI Sebut Tiga Alasan Optimistis Lolos ke Parlemen
Caleg dari Partai Solidaritas Indonesia, Andy Budiman (kedua kiri) saat bericara di acara rilis hasil survei Charta Politika bertajuk "Pileg 2019: Pemilu yang Terlupakan?" di Es Teler 77 Resto, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 4 April 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Yustinus Paat )
Yustinus Paat / JAS Kamis, 4 April 2019 | 19:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Andy Budiman menyebutkan tiga alasan PSI optimistis lolos masuk ke parlemen. Hal ini disampaikan Andy menanggapi survei Charta Politika yang menyebutkan elektabilitas PSI di angkat 2,2 persen.

Angka masih dalam kisaran angka margin of error ± 2,19 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

"Pertama, ada preseden pada Pemilu 2014 di mana dua partai yang satu bulan sebelum Pileg 2014, dinyatakan oleh lembaga survei angka elektabilitasnya sekitar tiga persen dan pada saat Pileg, perolehan suaranya menjadi enam persen," ujar Andy saat menjadi pembicara di acara rilis hasil survei Charta Politika bertajuk "Pileg 2019: Pemilu yang Terlupakan?" di Es Teler 77 Resto, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (4/4/2019).

Dua partai yang dimaksud Andy adalah PKS dengan angka elektabilitas 3,8 persen dan Partai Nasdem 3,3 persen. Ternyata pada saat Pileg 2014 berlangsung, PKS mendapatkan suara 6,8 persen dan Nasdem memperoleh suara 6,7 persen.

"Kali ini juga PSI yakin mengalami jalan yang sama dan optimistis elektabilitas naik dan melampaui angka PT (parliamentary threshold) 4 persen. Ini menebalkan optimisme kami," tandas dia.

Alasan kedua, lanjut Andy, umumnya pemilih PSI adalah orang yang ekonominya menengah ke atas dan kalangan terdidik. Dari hasil survei juga, moyoritas orang yang ekonominya menengah ke atas dan dari kalangan terdidik, tidak mau menjawab atau menyatakan pilihannya saat ditanya oleh lembaga survei.

"Nah, pemilih PSI ini cenderung diam ketika ditanya dan pada saat pemilihan, 17 April 2019, mereka akan coblos PSI. Kami yakin mayoritas 11,7 persen undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan) di survei Charta Politica adalah pemilih PSI," tutur dia.

Alasan ketiga, lanjut Andy, komunikasi politik PSI yang tersampaikan ke publik. Menurut Andy, apa yang diperjuangkan PSI, yang getol menolak korupsi dan gerakan intoleransi mendapat apresiasi dari masyarakat Indonesia.

"Dari hasil survei juga tergambar bahwa PSI dikenal dan publik memilih PSI karena figur Ketum kami Grace Natalie dan tertarik pada program PSI. Itu artinya komunikasi politik PSI biasanya disampaikan oleh Ketum Grace di acara Festival 11, efektif mendorong PSI lolos parlemen," terang dia.

Sebagaimana diketahui, hasil survei terbaru Charta Politika menunjukkan elektabilitas PSI di angka 2,2 persen. PSI mengalami kenaikan elektabilitas yang signifikan.

Pada survei Charta Politika 22 Desember 2018-2 Januari 2019, elektabilitas PSI di angka 1,5 persen. Kemudian sempat turun pada survei 1-9 Maret 2019, di angka 1,1 persen. Elektabilitas PSI kembali naik menjadi 2,2 persen pada survei 19-25 Maret 2019.

"Tren kenaikan PSI ini memang tidak terlepas dari figur ketum Grace Natalie yang selalu menyampaikan isu-isu yang kontroversial, seperti tolak poligami dan tolak perda syariah. Publik juga tertarik dengan program-program PSI, seperti aplikasi untuk mengawasi anggota DPR," jelas Direktur Riset Charta Politika Muslimin.

Muslimin mengatakan PSI berpeluang lolos karena elektabilitasnya masih di angka margin of error. Selain itu, PSI bisa merebut suara dari undecided voters yang jumlahnya 11,7 persen.

"Kemudian, kemantapan pemilih untuk memilih parpol belum terlalu tinggi. Masih ada 10,4 persen pemilih parpol yang berubah pilihan pada saat pemungutan. Ini juga bisa dimanfaatkan oleh PSI," pungkas Muslimin.

Survei Charta Politika dilakukan pada 19 hingga 25 Maret 2019 melalui wawancara tata muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah sampel sebanyak 2.000 responden yang tersebar di 34 provinsi.

Survei ini menggunakan multistage random sampling dengan margin of error lebih-kurang 2,19 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.



Sumber: BeritaSatu.com