Rizal Ramli: Jangan Samakan Pembangunan Infrastruktur Indonesia dan Tiongkok

Rizal Ramli: Jangan Samakan Pembangunan Infrastruktur Indonesia dan Tiongkok
Ekonomi senior Rizal Ramli (kiri) saat menjadi pembicara dalam bedah program calon presiden dan calon wakil presiden di Auditorium Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis, 4 April 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Jumat, 5 April 2019 | 10:58 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan, pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak bisa dilakukan secara massif, karena pertumbuhan ekonomi tidak tinggi. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur di Indonesia jangan disamakan dengan Tiongkok.

Hal itu dikatakan Rizal Ramli dalam acara “Bedah Program Capres dan Cawapres” di Auditorium Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Kamis (4/4/2019). Rizal mengkritisi pernyataan dari tim sukses calon presiden nomor urut 01 yang mengatakan bahwa masalah untung dan rugi pembangunan infrastruktur tidak perlu dipermasalahkan selama bertujuan untuk menyejahterakan rakyat.

Menurut Rizal, pernyataan itu tidak tepat, apalagi menggunakan analogi bahwa kebutuhan pembangunan infrastruktur di Indonesia sama dengan di Tiongkok. “Itu retorika yang tidak cerdas. Mereka membandingkan pembangunan infrastruktur di Indonesia dan Tiongkok. Itu ngawur berat. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok itu 12% selama 25 tahun. Jadi, kalau Tiongkok membangun infrastruktur jor-joranan, tidak ada masalah karena pertumbuhan ekonominya tinggi, pasti akhirnya investasinya balik,” kata Rizal, yang juga mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu.

Menurut Rizal Ramli, hal tersebut berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang belum menyentuh angka 10% setiap tahun. Karena itu, Rizal menginginkan pembangunan infrastruktur menyesuaikan perekonomian negara “Ini ekonomi (pertumbuhan ekonomi Indonesia) bisanya cuma 5%. Mandek di 5% mau membangun infrastruktur jor-joran. Akhirnya, pakai uang negara,” katanya.

Mantan Menko Ekuin era Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menambahkan, pernyataannya tersebut merupakan hasil diskusinya dengan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto. Rizal uga mengakui kerap berdiskusi dengan Prabowo terkait permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia. Kendati kerap bertemu untuk berdiskusi, dia mengaku tidak masuk dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Rizal mengaku belum menentukan pilihan, apakah akan membantu pemerintahan Prabowo jika menang dalam Pemilu 2019. Terlebih, hingga saat ini, kata Rizal, belum ada pembicaraan antara dirinya dan Prabowo tentang arah kabinet atau jabatan lainnya.

“Itu urusan lain lagi. Tidak penting. Yang penting, saya ingin melihat Indonesia maju. Indonesia lebih makmur dan lebih hebat dari hari ini,” kata Rizal Ramli.



Sumber: BeritaSatu.com