Hasto: Elektoral Tertekan, Kubu Prabowo Membangun Skenario Kalap

Hasto: Elektoral Tertekan, Kubu Prabowo Membangun Skenario Kalap
Sekretaris TKN Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto, di kampanye di Bekasi, Jawa Barat, Minggu (31/3/2019). ( Foto: Ist )
Markus Junianto Sihaloho / DAS Jumat, 5 April 2019 | 11:04 WIB

Cirebon, Beritasatu.com - Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto menilai bahwa karena hasil survei elektoral makin tertekan maka kubu Prabowo-Sandiaga Uno membangun skenario kalap. Hal itu disampaikan Hasto Kristiyanto menanggapi pernyataan mantan Kasum TNI, Johannes Suryo (JS) Prabowo, yang sekaligus loyalis capres Prabowo Subianto bahwa pesawat kubu pasangan nomor urut 02 Pilpres 2019 ini diganggu jet tempur. 

Pernyataan JS Prabowo itu dinilai sebagai tuduhan yang sangat serius, berbahaya, dan menghadirkan teori konspirasi membabi buta. Menurut Hasto Kristiyanto, kubu Prabowo terus membangun skenario curang termasuk tuduhan adanya intervensi negara.

"Semua skenario kalap akibat survei Prabowo-Sandi yang semakin tertekan. Mereka biasa menghalalkan segala cara, dimulai hoax, fitnah, skenario curang, politisasi agama, hingga teori konspirasi buta," kata Hasto Kristiyanto, Jumat (5/4/2019).

Padahal, apa yang terjadi dengan penundaan terbang pesawat yang ditumpangi  Prabowo tersebut murni alasan keselamatan karena pada saat bersamaan ada pesawat lain yang akan mendarat dan bukan karena diganggu jet tempur TNI sebagaimana dituduhkan.

Sedangkan seperti dikutip Antara TNI Angkatan Udara membantah tiga pesawat tempur Sukhoi menghalangi pesawat yang ditumpangi Prabowo Subianto saat akan melakukan kampanye terbuka di Purwokerto pada Pilpres 2019. “Pernyataan itu tidak tepat,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama TNI Samyoga, Kamis (4/4/2019).

Dalam cuitan di Twitter, mantan Kasum TNI, Johannes Suryo Prabowo dalam akunnya @marierteman, menyebutkan ada tiga jet tempur yang melintas saat pesawat Prabowo akan lepas landas menuju Purwokerto pada Senin (1/4/2019).

“Apa yang disampaikan Pak JS Prabowo kurang tepat. Karena yang beliau sampaikan terjadi pada dua hari yang berbeda, dan dua-duanya sama sekali tidak melibatkan Sukhoi,” kata Samyoga.

Ia menjelaskan ketidakterlibatan Sukhoi dalam peristiwa tersebut, bahwa pada Senin (1/4/2019), di landasan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur CN 235 Kalong Flight, posisi sudah take off dan berikutnya yang akan take off adalah pesawat 9HNYC onboard Prabowo Subianto.

Menurut dia, saat pesawat 9HNYC diberikan release take off juga, kondisinya belum aman karena pesawat CN235 belum menuju cross wind (belum belok), sehingga pesawat 9HNYC abort take off, untuk keamanan.

Abort take off dilakukan oleh senior ATC karena sebelumnya yang handle masih junior ATC. Jadi, abort-nya 9HNYC karena masalah safety dan tidak ada hubungan sama sekali dengan Sukhoi,” papar Samyoga.

Artinya, kata Samyoga, pesawat 9HNYC tidak ada hubungan sama sekali dengan penerbangan Sukhoi. Pesawat 9HNYC menunggu keberangkatan (take off) karena ada pesawat Wing Air sedang akan mendarat, bukan Sukhoi.

Menurut Hasto Kristiyanto, penyikapan kubu Prabowo sangat berbeda dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Hasto Kristiyanto bercerita, saat rombongan Megawati hendak boarding dari Halim Perdanakusmah ke Cirebon, pada Kamis kemarin, pesawatnya sempat tertunda 23 menit karena takeoff-landing Sukhoi.

"Ibu Megawati pun dengan sabar menerima hal tersebur, mengingat Halim memang juga berfungsi menjadi pangkalan pesawat militer. Mungkin karena Pak Prabowo merasa lebih TNI dan TNI maka munculah perasaan arogan," kata Hasto Kristiyanto.



Sumber: ANTARA