Elektabilitas PSI di Bawah 1%, Pemilih Minoritas Masih Pilih Partai Lama

Elektabilitas PSI di Bawah 1%, Pemilih Minoritas Masih Pilih Partai Lama
Peneliti Senior LSI Denny JA, Adjie Alfaraby (kanan) bersama Moderator Rully Akbar memaparkan hasil temuan terbaru survei nasional bertajuk "Pergeseran Dukungan Pilpres di Enam Kantong Suara" di kantor Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (7/2/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Asni Ovier / AO Jumat, 5 April 2019 | 20:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah hasil survei kembali menunjukkan partai-partai baru, seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI), tidak lolos parlemen karena elektabilitasnya masih di bawah 1%. Partai-partai baru itu pun diprediksi tidak lolos syarat ambang batas perolehan suara sebesar 4% untuk bisa mendapatkan kursi di DPR.

Dalam survei Terbaru LSI Denny JA, misalnya, disebutkan bahwa elektabilitas PSI hanya berkisar 0,2%. Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar mengatakan, tidak hanya gagal meraih pemilih mayoritas, PSI juga gagal mendapatkan dukungan dari kelompok pemilih minoritas.

Seperti diketahui, selain PSI, survei LSI Denny JA juga memperlihatkan partai baru lain yang terancam tidak lolos ke parlemen, yakni PBB (0,2%), PKPI (0,1%), Partai Garuda (0,1%), dan Partai Berkarya (0,7%). Sementara, partai yang juga belum aman untuk masuk parlemen adalah PAN (3,1%), PKS (3,9%), PPP (2,9%), Partai Nasdem (2,5%), dan Perindo (3,9%).

Survei ini digelar pada periode 18 sampai 26 Maret 2019 dengan melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia. Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan margin of error 2,8%.

Menurutnya, program kerja PSI tidak menuai simpati mayoritas masyarakat, bahkan memunculkan resistensi, khususnya pada kalangan pemilih muslim. "Mereka mengambil visi dan misi yang belum tentu disukai khalayak ramai. Mereka memainkan (isu penghapusan) perda syariah, kemudian memainkan (isu penghapusan) poligami. Kita tahu, pemilih Indonesia 90% muslim," kata Rully dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (5/4/2019).

Rully mengatakan, PSI terlalu berani masuk di isu yang sangat sensitif dan berpengaruh terhadap suara mayoritas. Rully memahami bahwa isu penghapusan perda syariah dan persoalan poligami merupakan strategi PSI untuk meraup ceruk pemilih minoritas. Namun, melihat elektabiltas PSI yang masih di bawah 1%, upaya tersebut juga gagal.

“Pemilih non-muslim ini belum tentu semuanya memilih PSI. Pemilih minoritas ini sudah merapat ke partai lama, salah satunya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)," kata Rully. Dikatakan, PSI sebagai partai baru sebenarnya memiliki diferensiasi dengan parpol-parpol lain.

Namun, faktanya, diferensiasi ini belum bisa mengangkat elektabilitas PSI sampai saat ini. “PSI belum bisa meyakinkan publik bahwa mereka bisa menjadi alat perubahan. Ini membutuhkan proses,” ujarnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com