Tingkat Partisipasi Pemilu Harus Tinggi

Tingkat Partisipasi Pemilu Harus Tinggi
Pekerja lepas melakukan perakitan kotak suara pemilu di kawasan Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, 14 Februari 2019. KPU Kota Depok mempersiapkan 27.686 kotak suara untuk didistribusikan ke 5.759 TPS yang terdapat di 11 kecamatan. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / WM Jumat, 5 April 2019 | 22:54 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat kepemiluan Silvanus Alvin menyatakan, jika Indonesia ingin dikategorikan negara demokratis yang maju, maka tingkat partisipasi pada Pemilu harus tinggi. Hal itu dapat diwujudkan dengan cara menggunakan hak pilih pada Pemilu 17 April 2019.

"Selain memberikan jaminan, pemerintah beserta lembaga terkait seperti KPU (Komisi Pemilihan Umum), harus memberikan stimulan kepada masyarakat agar mereka mau memilih," kata Silvanus kepada Beritasatu.com, Jumat (5/4).

Menurut Silvanus, terdapat beberapa cara agar masyarakat datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk menggunakan hak pilih. Pertama, memberikan penjelasan pentingnya masyarakat perlu memilih. Langkah ini, lanjut Silvanus, mungkin sudah lazim didengar setiap pesta demokrasi.

Meski begitu, strategi yang diterapkan khususnya di masa sekarang ini harus berbeda. Di era generasi milenial yang jumlahnya sekitar 42 juta orang, ujar Silvanus, maka pendekatannya pun semestinya bergaya milenial.

"Pemerintah membuat video interaktif yang kaya akan visual tapi mendalam secara pesan. Bahkan, ajak para opinion leader zaman now, yakni youtuber supaya milenial memilih," ucap Silvanus.

Kedua, Pemilu sudah selayaknya dikemas dengan meriah bak pesta. Pemerintah dan lembaga terkait perlu mengajak kerjasama sejumlah tenant untuk membuat insentif. "Misal bekerja sama dengan tenant dari food and beverage, jadi bagi masyarakat yang sudah memilih dapat diskon dengan menunjukkan bukti atau tanda tinta di kelingking," ucap Silvanus.

Ketiga, pemerintah pusat dan pemerintah daerah sepatutnya memerintahkan jajarannya bersama dengan warga untuk menghias TPS. "Kalau perlu ada hiburan di dekat TPS, misal diiringi dengan musik. Jadi nuansa ketika menggunakan hak pilih tidaklah mencekam tapi memang suasana meriah sebuah pesta," kata Silvanus.

Lulusan program master Universitas Leicester Inggris tersebut menilai antusiasme tinggi masyarakat memakai hak pilih lazimnya datang dari para pendukung loyal peserta Pemilu. "Sanak saudara dan kerabat dekat, maupun relawan dan simpatisan kandidat politiklah yang semangat datang ke TPS. Saya rasa bagi mereka yang tidak memiliki hubungan erat dengan kandidat, akan kurang semangat ke TPS," ungkap Silvanus.

Silvanus mengingatkan bahwa hari pemungutan suara Pemilu berdekatan dengan libur nasional. "Sehingga bisa saja ada yang lebih memilih untuk liburan ketimbang memilih. Oleh karena itu dibutuhkan stimulan sebagaimana saya jelaskan tadi," imbuh Silvanus.

Silvanus pun menekankan, kandidat presiden dan wakil presiden, para calon anggota legislatif sudah bukan saatnya lagi promosi program, melainkan sosialisasi hari H. Mengajak masyarakat untuk datang ke TPS dan memilih.

Silvanus menuturkan, kondisi berbeda bila dengan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri. Misalnya yang di Inggris. Silvanus mengatakan, dirinya mendapat informasi bahwa para WNI begitu semangat untuk mencoblos.

"Pencoblosan di Inggris akan dilangsungkan di Kedubes Indo di London, tepatnya pada 13 April. Jadi pencoblosan lebih dulu. Antusiasme WNI di luar negeri saya prediksi lebih tinggi karena memang di negara asing, semangat nasionalisme itu akan lebih keluar dan terasa. Tiap individu lebih ingin menunjukkan kecintaan terhadap negaranya di negara lain," kata Silvanus.

Disinggung mengenai perlunya pemerintah mengatur ulang jadwal penerbangan dengan melarang penerbangan 12 jam saat hari H, Silvanus menyatakan bahwa hal itu tak perlu diterapkan.

"Sebaiknya tidak menggunakan hard approach seperti mengubah jadwal penerbangan. Karena hal itu akan menjadi bola liar dan malah masyarakat jadi enggan memilih. Sebaiknya menggunakan soft approach dengan cara menumbuhkan pemahaman politik betapa pentingnya memilih," pungkas Silvanus



Sumber: Suara Pembaruan