Prabowo Tuding Suara Bisa Dicuri, Charles Honoris: Sekarang Bukan Orde Baru

Prabowo Tuding Suara Bisa Dicuri, Charles Honoris: Sekarang Bukan Orde Baru
Politisi PDIP Charles Honoris bersama Presiden Joko Widodo. ( Foto: Istimewa / Istimewa )
Asni Ovier / AO Sabtu, 6 April 2019 | 15:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pernyataan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto bahwa pihaknya harus menang dengan selisih suara minimal 25% karena belasan persen suara akan dicuri adalah rangkaian dari opini kecurangan yang sengaja dibangun untuk mendeligitimasi pemilu. Cara ini sebelumnya kerap digunakan oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga dengan menyuarakan pernyataan yang sangat memaksa bahwa hanya kecurangan yang bisa mengalahkan kubu 02.

“Opini kecurangan yang dibangun kubu 02 ini sangat berbahaya, bukan hanya karena telah memperkeruh situasi politik yang semakin panas menjelang hari pencoblosan, tetapi juga berpotensi menciptakan konflik jika hasil akhir pemilu tidak sesuai keinginan mereka. Aparat keamanan harus mengantisipasi potensi-potensi ini sejak dini,” ujar politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Charles Honoris di Jakarta, Sabtu (6/4/2019).

Charles Honoris mengatakan, soal tudingan curi belasan persen suara ini, Prabowo sepertinya lupa bahwa Indonesia sudah tidak lagi berada pada era Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto. Saat itu, ujar Charles, Prabowo selama belasan tahun menjadi bagian dari penguasa yang bisa seenaknya mengatur suara hasil pemilu.

“Sekarang bukan lagi era mantan mertua Prabowo, di mana suara bisa dicuri dan pemenang pemilu bisa ditentukan seenaknya. Lagi pula, ketika semua lembaga survei menempatkan elektabilitas calon presiden nomor urut 01 jauh di atas 02, seharusnya kami yang takut suaranya dicuri. Bukan sebaliknya,” kata Charles Honoris.

Dikatakan, hasil survei SMRC pada Januari 2019 menunjukkan mayoritas pemilih (80%) percaya pada integritas KPU dalam menyelenggarakan pemilu. Jadi, kata Charles Honoris, kalau Prabowo mencoba membangun “opini kecurangan pemilu”, jelas itu sangat bertentangan dengan opini yang ada di masyarakat luas.

“Jangan setelah melihat banyak survei yang memprediksi 02 kalah telak, lantas opini kecurangan ini dibangun. Upaya itu pasti akan sia-sia karena mandat kekuasaan datangnya dari rakyat, bukan dari elite yang mulutnya mulai teriak curang saat dirinya terjepit,” kata Charles Honoris.

Charles Honoris juga mengatakan, sebelas hari menjelang pencoblosan, KPU diharapkan fokus saja bekerja dan tidak terpengaruh oleh opini-opini yang dibangun untuk mendeligitimasi penyelenggaran pemilu. Rakyat sudah memberikan kepercayaan penuh pada KPU untuk menyelenggarakan pesta demokrasi yang jujur dan adil.



Sumber: BeritaSatu.com