Prabowo Klaim Suaranya Akan Dicuri, Bawaslu: Perhitungan Suara Terbuka

Prabowo Klaim Suaranya Akan Dicuri, Bawaslu: Perhitungan Suara Terbuka
Ilustrasi Bawaslu. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / YUD Sabtu, 6 April 2019 | 17:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan mengatakan proses penghitungan dan rekapitulasi suara dilakukan secara terbuka dan transparan. Menurut Abhan, proses demikian untuk memastikan tidak adanya kecurangan dalam proses penghitungan dan rekapitulasi suara.

Hal ini disampaikan Abhan menanggapi Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto yang mengklaim bahwa kubunya harus menang besar dengan selisih 25 persen suara karena belasan persen suara akan dicuri.

"Dan penghitungan rekap itu kan berjenjang. Di TPS kemudian direkap di PPK (panitia pemilihan kecamatan). Artinya apa? Kalau ada kesalahan hitung di TPS, bisa dikoreksi di PPK," kata Ketua Bawaslu Abhan di Hotel Sari Pacific, Jalan MH Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/4/2019).

Abhan melanjutkan, jika ada kesalahan di PPK, maka kesalahan tersebut akan dikoreksi dalam tahapan rekapitulasi di tingkat
kabupaten. Kemudian, dilanjutkan rekapitulasi di tingkat provinsi sampai akhirnya di KPU RI. Kalau ada kesalahan atau kecurangan di setiap tingkatan, maka akan dikoreksi di tingakatan berikutnya.

"Bahwa setiap proses penghitungan dan rekapitulasi itu ada tiga pihak, yakni ada penyelenggara KPU, ada pengawas pemilu, ada saksi peserta pemilu. Dan itu transparan, bisa dilihat," ungkap dia.

Tak hanya itu, kata Abhan pemantau pemilu dan masyarakat juga bisa mengawasi proses penghitungan dan rekapitulasi suara. Jika ditemukan kecurangan, maka segera melaporkan kepada Bawaslu dan jajarannya di tingkat lapangan.

"Kalau dia melihat kecurangan, ada kesalahan, bisa sampaikan kepada kami (Bawaslu). Kami akan melakukan koreksi, untuk koreksi dilakukan oleh KPPS dan jajaran KPU-nya. Jadi menurut saya itu adalah proses yang sangat terbuka," terang dia.

Lebih lanjut, Abhan mengatakan dalam proses penghitungan, KPU menyediakan formulir C2 yang berisikan catatan keberatan atas kejadian khusus dari pihak yang menemukan pelanggaran atau kecurangan.

"Kejadian khusus itu, setiap tingkatan akan dibacakan kira-kira akan diselesaikan, diverifikasi dan diklarifikasi. Di situlah fungsi-fungsi adanya saksi, fungsi pengawasan yang melekat di jajaran kami," pungkas Abhan.

Sebelumnya, Prabowo Subianto mengatakan kubunya harus menang dengan minimal selisih 25 persen. Prabowo pun mengajak para pendukung mengawal kemenangan pasangan nomor urut 02 di Pilpres 2019.

"Kita harus menang dengan angka yang sangat besar. Kita harus menang dengan selisih 25 persen. Karena siap akan dicuri sekian belas persen. Hanya itu usaha kita," ujar Prabowo di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (5/4/2019).



Sumber: BeritaSatu.com