Goenawan Mohamad: PSI Mengembalikan Politik Pengabdian Masyarakat

Goenawan Mohamad: PSI Mengembalikan Politik Pengabdian Masyarakat
Goenawan Mohamad. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / YS Sabtu, 6 April 2019 | 19:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sastrawan dan Pendiri Majalah Tempo Goenawan Mohamad mengungkapkan alasan memilih Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan mengharapkan PSI masuk parlemen atau lolos parliamentary threshold 4 persen.

Menurut Goenawan, PSI mengembalikan yang politis, politik yang memperjuangkan kepentingan publik.

"Mengapa saya memilih PSI? Dan mengapa saya mengharapkan PSI masuk Parlemen? Karena ini gerakan anak-anak muda, anak-anak yang belum tercemar oleh uang, korupsi, dan kedudukan, dan mempunyai program yang ingin mengembalikan politik dalam arti yang benar, yaitu pengabdian kepada masyarakat," ujar Goenawan dalam video yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (6/4/2019).

PSI terlihat memang berusaha menghidupkan kembali "yang politis" yang selama ini sunyi bahkan hilang dari kancah politik Indonesia. Arah politik PSI sangat jelas ketika mereka tidak tanggung-tanggung melawan korupsi dan gerakan-gerakan intoleran.

PSI merupakan satu-satunya partai yang dari awal konsisten tidak mengusung mantan napi kasus korupsi menjadi caleg. Ketika ketahuan ada caleg tersangkut kasus penggelapan, PSI langsung memecatnya dan dan mencoret dari daftar caleg tetap atau DCT.

PSI juga telah menyiapkan sistem untuk mengontrol dan mengawasi para kadernya jika duduk di parlemen dengan sistem aplikasi.

PSI juga telah tegas menolak perda-perda yang bersifat diskriminatif dan menolak poligami termasuk memastikan para kader dan calegnya tidak boleh poligami. Bahkan, PSI menentangkan segala diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas.

Goenawan mengungkap alasan lain memilih PSI, yakni karena PSI mendukung Calon Presiden Nomor Urut 01 Joko Widodo. Bagi Goenawan, Jokowi adalah pilihan yang paling logis dan secara emosional, memuaskan dewasa ini.

"Pertama, karena dia (Jokowi) sudah berpengalaman dan bekerja cukup banyak. Kedua, karena kerjaan itu memerlukan waktu lebih dari hanya lima tahun. Ketiga, karena alternatif dari dia, Prabowo Subianto, bagi saya, bukan orang yang ideal. Timnya juga meragukan untuk membuat Indonesia satu, maju, dan cerdas," jelas Goenawan.



Sumber: Suara Pembaruan