PSI: Sejak Awal Prabowo Sudah Politisasi Agama

PSI: Sejak Awal Prabowo Sudah Politisasi Agama
Sekjen DPP PSI Raja Juli Antoni dan Jajaran Pengurus PSI di sela-sela acara Solidarity Tour PSI di Pamekasan, Jawa Timur, Jumat, 1 Februari 2019. ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / YUD Minggu, 7 April 2019 | 15:55 WIB

Ende, Beritasatu.com - Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni mengaku setuju dengan kritik Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap kampanye terbuka Pasangan Calon Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Gelor Bung Karno, Jakarta, Minggu (7/4/2019).

SBY menyebut kampanye Prabowo-Sandi tidak lazim dan tidak inklusif. Menurut Antoni, sebenarnya ketidaklaziman dan ketidakinklusifan Prabowo sudah tejadi sejak awal pencalonan.

"Ketidaklaziman dan ketidakinklusifan itu sudah tejadi sejak awal pencalonan sebenarnya. Sejak awal Prabowo mempolitisasi agama untuk memperkuat basis politiknya," ujar Antoni di sela-sela acara Safari Toleransi PSI di Ende, Nusa Tenggara Timur, Minggu (7/4/2019).

Menurut Antoni, sejak pencalonan, Prabowo menyelenggarakan ijtimak ulama untuk mencitrakan dirinya presiden pilihan umat Islam. "Jadi sejak awal pencalonan Prabowo tidak lazim dalam konteks negara berdasarkan Pancasila. Tidak inklusif, tidak merepresentasikan kebinekaan kita," ungkap dia.

Namun, kata Antoni, rakyat Indonesia sudah cerdas. Menurut Antoni, rakyat Indonesia sudah mengetahi siapa ulama sebenarnya dan mana ulama yang abal-abal.

"Rakyat sudah tahu mana santri benaran dan mana santri KW mesti pakai sarung dan kibarkan bendera NU. Rakyat juga sudah tahu siapa Presiden yang menjalankan perintah agama dan mana Presiden yang hanya shalat subuh untuk kampanye saja," terang dia.

"Sekali lagi saya setuju dengan Pak SBY kali ini. Sebagai mantan Presiden pandangan Pak SBY ini patut dijadikan rujukan bagi parah pemilih," pungkas Antoni menambahkan.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat yang juga Presiden Keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegur secara terbuka calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Teguran ini tak terlepas kampanye akbar yang dilakukan pasangan nomor urut 02 itu di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (7/4.2019).

SBY memandang kampanye yang tak lazim dan ekskusif yang dilakukan Prabowo-Sandi dinilai berbahaya. Sebab akan menguatkan polarisasi yang sudah tercipta di tengah masyarakat.

Cegah demonstrasi apalagi show of force identitas, baik yang berbasiskan agama, etnis serta kedaerahan, maupun yang bernuansa ideologi, paham dan polarisasi politik yang ekstrim," ujar SBY lewat surat tertulisnya, Minggu (7/4).

Menurut SBY, pemilihan presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, dan pemimpin untuk seluruh rakyat Indonesia. Dengan semangat itu maka SBY meminta agar kampanye yang dilakukan juga mencerminkan semangat kebangsaan yang majemuk.

"Sejak awal set up-nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap "Semua untuk Semua" , atau All For All. Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terpilih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh dan insyaallah akan berhasil," kata SBY.

Presiden Indonesia keenam ini juga mengkritisi gaya kampanye yang eksklusif adalah blunder yang menunjukkan kerapuhan seorang pemimpin.

"Pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal 'kawan dan lawan' untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa," tegas SBY

Dia berharap tak ada capres yang punya jiwa gemar mengadu rakyatnya sendiri. "Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi (Joko Widodo) dan Pak Prabowo," ujar SBY.

Saya mengaku selama menjadi mantan capres maupun mantan Presiden, tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai pro Pancasila dan pro kilafah," kata SBY. Dengan polarisasi yang dibangun seperti itu, SBY khawatir terjadi konflik yang berkepanjangan di kalangan rakyat.

"Kalau dalam kampanye ini dibangun polarisasi seperti itu, saya justru khawatir jika bangsa kita nantinya benar-benar terbelah dalam dua kubu yang akan berhadapan dan bermusuhan selamanya. Kita harus belajar dari pengalaman sejarah di seluruh dunia, betapa banyak bangsa dan negara yang mengalami nasib tragis (retak, pecah dan bubar) selamanya. The tragedy of devided nation," kata SBY.

Menurutnya, masih banyak narasi kampanye yang cerdas dan mendidik. Seperti yang kita lakukan dulu pada Pilpres 2004, 2009, dan 2014. "Bangsa kita sangat majemuk. Kemajemukan itu di satu sisi berkah, tetapi disisi lain musibah. Jangan bermain api, terbakar nanti," tutup SBY.



Sumber: BeritaSatu.com