Boni Hargens: Hoax Jadi Strategi Menang Pemilu 2019

Boni Hargens: Hoax Jadi Strategi Menang Pemilu 2019
Pengamat politik Boni Hargens dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 8 September 2018. ( Foto: BeritaSatu.com / Yustinus Paat )
Yustinus Paat / YUD Minggu, 7 April 2019 | 20:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens menegaskan hoax yang marak terjadi belakangan ini merupakan strategi untuk meraih kekuasaan di Pemilu 2019. Menurut Boni, pelaku dan penyebar hoax akan berhenti ketika kekuasaan berhasil diraih.

"Sebagai skenario politik, hoax tetaplah sebuah strategi. Pelaku hoaks hanya berhenti ketika kekuasaan diraih, karena tujuan dari semua itu adalah kekuasaan. Sama seperti agama yang didagangkan atau sentimen etnik yang dipolitisir,” ujar Boni di sela diskusi bertajuk ‘Tolak Berita Palsu Menjelang Pemilu’ di Jakarta, Minggu (7/4/2019).

Boni mengungkapkan setiap hoax, khususnya hoax politik dan pemilu yang dihembuskan by design untuk memenangkan persepsi publik. Karenanya, Boni menduga ada motif politik dan afiliasi para penyebar hoax dengan partai atau tim kampanye politik.

“Polisi mesti menyasar desain besar di balik itu sehingga kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pembangunan kesadaran politik masyarakat. Mereka yang rasional akan marah dan yang kurang rasional mungkin terpengaruh oleh hoax ini. Tapi bagaimanapun, pengungkapan kasus-kasus hoax ini membantu pemilih untuk belajar bersikap rasional dalam pemilu,” jelas dia.

Boni menilai fenomena fake news, fitnah, kebohongan atau hoax yang menjadi trend dalam kampanye politik 2019 ini sangat mengancam persepsi politik kelompok milenial.

“Kita semua melihat dengan telanjang bahwa fenomena hoax yang berkembang selama ini benar-benar merusak persepsi politik kelompok milenial, dan juga kelompok parokial, masyarakat yang memiliki keterbatasan informasi politik,” tutur dia.

Menurut Boni, para politisi melihat kondisi ini sebagai peluang untuk meraih kekuasaan. Logika curang dan strategi kebohongan menjadi trend baru yang dibungkus dengan istilah negative campaign yang sebetulnya dalam praksis menjadi black campaign alias kampanye hitam.

“Semua dianggap wajar karena politik demokrasi elektoral dipahami sebagai pertarungan menang-kalah, bukan benar-salah. Logika pragmatisme menjadi arus utama,” terang Boni.

Boni mencontohkan, hoax tentang KPU curang, tuduhan aparat mengintervensi pemilu, termasuk gosip lama tentang tujuh kontainer surat suara yang dihembuskan lewat akun medsos Andi Arief telah mengacaukan ruang politik tetapi tetap saja dinikmati sebagai pertunjukan wajar oleh politisi pecundang.

Karena itu, Boni mengajak masyarakat khususnya para pemilih pemula atau melinials untuk dapat melihat keadaan politik secara lebih logis dengan memperhatikan pemikiran akal sehat, untuk dapat memaknai pelaksanaan pemilihan umum dapat berjalan dengan damai.

"Masyarakat harus berfikir positif, masyarakat harus diajak untuk rasional, masyarakat harus diajak untum nersikap bijaksana, sehingga proses pemilihan ini betul-betul proses politik yang rasional, yang mengusung integritas, yang mengusung prinsip sportivitas, sehingga kita semua akan melihat pemilu ini pemilu yang damai," pungkas Boni.



Sumber: BeritaSatu.com