Bawaslu Proses Laporan Dugaan Politik Uang Menteri Luhut

Bawaslu Proses Laporan Dugaan Politik Uang Menteri Luhut
Luhut Binsar Pandjaitan. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / JAS Senin, 8 April 2019 | 13:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Fritz Edward Siregar, mengungkapkan pihaknya saat ini sedang memproses laporan dugaan politik uang oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. Laporan tersebut, kata Fritz, sudah masuk pembahasan di sentra penegakan hukum terpadu (gakkumdu).

"Masih dalam proses. Masih didiskusikan di sentra gakkumdu untuk dicari unsur pelanggarannya," ujar Fritz ketika dikonfirmasi, Senin (8/4/2019).

Fritz mengatakan laporan yang yang diajukan Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) itu belum diregistrasi oleh Bawaslu. Bawaslu masih meminta pihak pelapor untuk melengkapi berkas laporan.

"Masih diminta kelengkapannya. Tetap sama prosesnya (proses laporannya) nanti selama 7+7 hari," papar Fritz.

ACTA melaporkan Luhut Binsar Pandjaitan, ke Bawaslu, Jumat (5/4/2019). Luhut diduga melakukan politik uang dan sejumlah pelanggaran pemilu lain, seperti melakukan kampanye tanpa cuti padahal Luhut juga tidak masuk tim kampanye Jokowi-Ma'ruf dan melakukan tindakan yang menguntungkan paslon Jokowi-Ma'ruf.

Luhut juga sudah memberikan klarifikasi terkait video kunjungannya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil di Bangkalan, Madura. Luhut menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bentuk silaturahmi yang biasa dilakukannya.

"Kunjungan saya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan pada Sabtu 30 Maret 2019, merupakan bentuk silaturahmi," ujar Luhut dalam keterangannya, Jumat (5/4/2019).

Luhut mengatakan silaturahmi di pondok pesantren sudah biasa dilakukan sejak menjadi Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun Jawa Timur pada 1995. Bagi dia, keberadaan pesantren telah menjadi pilar penting untuk menjaga kekokohan NKRI.

"Dari kebiasaan itulah saya mulai mengenal almarhum Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang kemudian banyak mengajari saya tentang tradisi pesantren, sejarah Islam, dan tentang Islam yang membawa kedamaian," ungkap dia.

Khusus mengenai kunjungan ke Bangkalan, kata Luhut, dirinya sengaja menjenguk KH Zubair Muntasor yang didengarnya memiliki masalah kesehatan. Dia mengaku soal kesehatan Kiai Zubair tidak patut diceritakan ke publik secara lebih mendetail karena privasi Kiai Zubair.

"Sebagai tamu yang dijamu dan disambut dengan hangat, saya hanya dapat membalas dengan memberi bisyaroh sekadarnya untuk membantu pengobatan Beliau. Saya pun lebih dulu diberi oleh-oleh berupa batik dan batu akik. Begitulah tradisi yang kami lakukan untuk menjaga tali silaturahmi," cerita dia.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 15 menit, Luhut mengaku menitipkan pesan agar jangan sampai ada umat atau santri yang golput pada Pemilu 2019.

"Saya menyesalkan adanya pihak-pihak yang mengatakan telah terjadi jual-beli suara dalam pertemuan tersebut. Bagi saya, fitnah yang keji itu mencoreng kehormatan terutamanya KH Zubair Muntasor dan pondok pesantren yang diasuhnya," tandas dia.

Luhut mengimbau kepada para elite agar "mengedepankan pikiran jernih ketimbang prasangka buruk, dan hati yang bersih ketimbang hati yang penuh kecurigaan". Menurut dia, ajaran hubungan dan jalinan silahturahmi yang sudah diajarkan turun temurun oleh para leluhur tidak boleh dirusak oleh kepentingan sesaat para elite.

"Sebelum bertindak, bertanyalah dan berdialoglah dengan hati nurani yang paling dalam untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Demikian klarifikasi ini saya sampaikan dengan harapan dapat menghentikan fitnah atau kabar bohong yang diedarkan," tutur dia.



Sumber: BeritaSatu.com