Sikap SBY yang Pertanyakan Kampanye Politik Identitas Prabowo Dinilai Melegakan

Sikap SBY yang Pertanyakan Kampanye Politik Identitas Prabowo Dinilai Melegakan
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto saat menyampaikan orasi politik dalam kampanye akbar yang dihadiri simpatisan dan kader partai pendukung koalisi, di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu 7 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / WM Senin, 8 April 2019 | 21:58 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Wakil Kepala Rumah Aspirasi Joko Widodo-Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf), Michael Umbas menanggapi surat Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait kampanye akbar Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi). Menurut Umbas, surat SBY menggambarkan kegelisahan SBY menyangkut politik identitas.

“Menunjukkan kegelisahan beliau terhadap kampanye terbuka Prabowo-Sandiaga yang jauh dari cerminan inklusivitas dan penghargaan atas nilai-nilai pluralitas Indonesia sebagai bangsa majemuk,” kata Umbas sebagaimana keterangan tertulis kepada Beritasatu.com, Senin (8/4/2019). Umbas pun mengapresiasi surat SBY tersebut.

“Sikap ini melegakan dan menegaskan bahwa Pak SBY lebih mementingkan kesinambungan nilai-nilai kemajemukan sebagai ciri bahkan arus utama dalam demokrasi dan berbagai artikulasi dan ekspresi berpolitik,” ujar Umbas. Sebagai Presiden keenam RI, menurut Umbas, SBY tentu memiliki sensitivitas terhadap potensi-potensi penguatan politik identitas.

Politik identitas akan menggerus nilai-nilai keberagaman dan toleransi yang dibangun, bahkan sebelum republik ini berdiri. “Politik yang mengayomi semua warga negara yang plural itulah yang penting dan esensial sesuai dengan ideologi bangsa Pancasila. Sikap Pak SBY tersebut tentu belum terlambat sebelum Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 17 April 2019,” tegas Umbas.

Umbas menyatakan, rakyat tetap menaruh harapan perhelatan demokrasi berlangsung tanpa dominasi kekuatan kelompok massa. Termasuk, ancaman kekerasan verbal dan non verbal, sehingga tidak akan memutus rantai kebersamaan, persahabatan serta persatuan sebagai sesama anak bangsa



Sumber: Suara Pembaruan