Surat SBY Dinilai Cara untuk Jaga Pendukung Partai Demokrat

Surat SBY Dinilai Cara untuk Jaga Pendukung Partai Demokrat
Kampanye akbar Prabowo-Sandi di Jakarta, Minggu 7 April 2019. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / JEM Selasa, 9 April 2019 | 12:45 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan agar kampanye pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) bersifat inklusif.

Peringatan itu dituangkan SBY dalam surat kepada tiga elite PD pada Sabtu (6/4/2019) atau sehari menjelang kampanye akbar Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Menurut pengamat komunikasi politik Hendri Satrio, imbauan SBY tersebut merupakan suatu kewajaran. “Wajar. Sebetulnya untuk kepentingan Partai Demokrat. Cara SBY untuk menjaga pendukung dan konstituennya ya dengan surat itu. Menegaskan bahwa Partai Demokrat tetap berada di jalur nasionalis,” kata Hendri kepada Beritasatu.com, Selasa (9/4/2019).

Hendri menyatakan, acara kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden 02 pada Minggu (7/4/2019) Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta., cenderung menguntungkan Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Gerindra diuntungkan karena kehadiran Prabowo yang juga ketua umum (ketum). Adanya salat subuh berjamaah menarik massa PKS dan PAN.

“Kalau acara dikemas seperti itu, maka elektoral yang terbesar itu jatuhnya ke Gerindra, PKS, dan PAN, baru Partai Demokrat. Kenapa? Karena Gerindra ada Prabowo, PKS dan PAN dari sisi massanya. Surat SBY itu tunjukkan sikap Partai Demokrat yang tidak eksklusif, lebih ke inklusif,” ujar direktur eksekutif Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia tersebut.

Hendri menambahkan,manuver SBY tidak berdampak negatif untuk Prabowo-Sandi maupun PD. “Buat Partai Demokrat justru harus dilakukan kalau tidak mau kehilangan konstituen. Menguntungkan kubu 02 juga. Artinya, pendukung 02 yang memang sangat junjung tinggi kebinekaan tidak perlu khawatir, karena ada poros Partai Demokrat yang jaga supaya tetap dalam kebinekaan,” ucap Hendri.

Disinggung mengenai surat SBY sebagai puncak keretakan kubu 02, Hendri tak melihat itu. “Kalau keretakan yang berujung pada perpecahan enggak. Kalau namanya sebuah tim, ada keretakan seperti perbedaan pendapat wajar. Saya yakin enggak cuma di 02, tapi juga 01 begitu,” ungkap Hendri. PD juga dinilai tak akan mengalihkan dukungan ke Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

“Ada isu mungkin enggak Partai Demokrat pindah ke Jokowi-Ma’ruf? Secara peraturan enggak boleh. Kalau pindah untuk apa? Hanya merugikan Partai Demokrat. Kertas suara sudah dicetak. Di bawah gambar pasangan calon kan ada partai-partai pengusung. Nanti malah bingungkan pemilih jika Partai Demokrat beralih,” pungkas Hendri.



Sumber: Suara Pembaruan