Jelang Hari Kartini, Rahayu Saraswati Kagumi Perjuangan Para Kartini Kendeng

Jelang Hari Kartini, Rahayu Saraswati Kagumi Perjuangan Para Kartini Kendeng
Saraswati Hashim Djojohadikusumo saat melantunkan lagu My Way di acara Buka Tahun Bersama ke-14 Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Gedung Dwi Warna Lemhannas, Jakarta, Jumat 25 Januari 2019. (Sumber; PWKI)
Carlos KY Paath / AO Selasa, 9 April 2019 | 18:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Peracayaan hari Kartini mengingatkan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo terhadap para "Kartini Kendeng", perempuan-perempuan petani dari Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah (Jaten) memiliki daya juang yang hebat. Mereka berjuang dalam mempertahankan sumber air dan keasrian alam tempat tinggal yang tersimbolisasi dalam konsep “Ibu Bumi”.

“Saya belajar filosofi arti perjuangan dari para Kartini Kendeng,” kata Saraswati dalam keterangannya kepada Beritasatu.com di Jakarta, Selasa (9/4).

“Mereka kuat mempertahankan dan memperjuangkan prinsip-prinsip yang mereka pegang, salah satunya alam asri jangan dikorbankan untuk industri ekstraktif,” imbuh Saraswati.

Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Gerindra tersebut menyatakan, kegigihan dan kesabaran kaum perempuan petani Kendeng mempertahankan hak-hak hidup dan lingkungan hidup merupakan contoh nyata kecintaan terhadap Tanah Air. Itulah sejatinya perjuangan RA Kartini.

Perjuangan Kartini Kendeng, menurut Saraswati, merupakan alarm setiap pihak bahwa Indonesia adalah negara agraris. “Jangan kita mendurhakai kesejatian Indonesia ini. Apalagi kita menghadapi ancaman rawan pangan,” ujar Saraswati.

Saraswati pun menyebut, “Budaya leluhur kita itu bertani, dan itu tertanam kuat di sanubari Kartini Kendeng. Perjuangan mereka itu untuk mempertahankan budaya yang menjadi sumber nafkah mereka, mengapa di negara yang katanya agraris menjadi petani dilarang?”

Saraswati juga menilai aksi 9 perempuan Kendeng menyemen kaki di depan Istana Negara merupakan bentuk sikap heroik dalam usaha menuntut keadilan sebagaimana dulu dilakukan Kartini. Saraswati menambahkan, perjuangan Kartini Kendeng menjadi salah satu pengingat dirinya.

“Keteguhan hati Kartini Kendeng menentang pemiskinan dan menolak perusakan ibu bumi tanah air memotivasi saya untuk terus berusaha membela hak-hak setiap orang melalui jalur parlemen,” ucap Saraswati.

Seperti diketahui para petani Kendeng melakukan perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen oleh PT Semen Indonesia. Perlawanan dan perjuangan menuntut keadilan mereka sudah berjalan sejak 2016.

Sejumlah petani perempuan yang dikenal sebagai Kartini Kendeng turut melakukan aksi penolakan. Mulai dari demonstrasi, aksi berdiam diri di tenda, jalan kaki Rembang-Semarang hingga aksi ekstrem yakni dua kali menyemen kaki di depan Istana Negara.

Aksi terakhir tersebut bahkan mengambil korban jiwa, Yut Patmi karena mengalami serangan jantung. “Saya dengar perjuangan Yut Patmi diabadikan dalam bentuk monumen dan langgar untuk ibadah serta berkumpul menyusun pembelaan terhadap Ibu Bumi. Saya ingin menyempatkan diri ke sana, mendengar, semoga belum terlambat. Insyaallah,” ucap Saraswati.

Hingga kini, perjuangan warga pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, masih berlangsung. Mereka meminta pemerintah untuk menghentikan penambangan di kawasan desa mereka. Warga juga masih menolak kegiatan pabrik semen PT Semen Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan