Wiranto: Hoax itu Menghancurkan Bangsa

Wiranto: Hoax itu Menghancurkan Bangsa
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto (kiri) didampingi Sekjen Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rosarita Niken Widiastuti pada acara silaturahmi dengan pimpinan media massa di Hotel Aryaduta, Tugu Tani, Jakarta, Selasa, 9 April 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Asni Ovier DP )
Carlos KY Paath / WM Selasa, 9 April 2019 | 20:04 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Wiranto menilai, hoax merusak bangsa. Sebab, hoax yang disebarkan dapat dipastikan bertujuan negatif.

“Media sosial (medsos) yang sangat canggih ini membuat perang opini jadi sangat tajam sekali, apalagi menjurus hoax. Saya kalau dengar hoax itu kadang ambil nafas panjang. Karena hoax itu menghancurkan kita sebagai bangsa,” kata Wiranto.

Hal itu disampaikan Wiranto dalam Forum Silaturahmi Menko Polhukam dengan Pimpinan Redaksi Media Massa bertajuk “Pemilu Damai Adalah Kebanggaan Bangsa, Kita Semua Bersaudara” di Jakarta, Selasa (9/4/2019).

“Hoax itu pasti berita bohong. Tujuannya itu menyerang lawan. Undang-undang kita enggak cukup kencang mengimbangi laju kecepatan informasi. Sudah sepatutnya kita semua melawan hoax ini,” tegas Wiranto.

Wiranto juga menyesalkan ada provokasi dari sejumlah tokoh. Misalnya, isu penggunaan people power (kekuatan massa) jika Pemilu berlangsung curang. “Provokasi dari tokoh-tokoh saya sesalkan,” ungkap Wiranto.

Menurut Wiranto, politik identitas juga begitu kental dipakai untuk kampanye. “Suka enggak suka, setuju enggak setuju, kita betul-betul terjebak pada politik identitas. Sudah menyerempet ke sana. Kalau kita jujur,” demikian Wiranto.

Kegiatan turut dihadiri Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika R Niken Widiastuti, Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo, Ketua Forum Pemred Kemal Gani, jajaran Kementerian Koordinator Polhukam, serta puluhan pemred dan perwakilan media



Sumber: Suara Pembaruan