TKN: Tema Debat Terakhir Untungkan Jokowi

TKN: Tema Debat Terakhir Untungkan Jokowi
Meutya Hafid. ( Foto: Antara )
Hendro D Situmorang / JAS Selasa, 9 April 2019 | 19:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf), Meutya Hafid meyakini debat terakhir calon presiden dan wakil presiden akan menjadi sarana bagi pasangan nomor urut 01 untuk menebar narasi-narasi yang penuh otimisme dan inspiratif.

Menurut Meutya, debat terakhir yang akan membahas isu perekonomian dan kesejahteraan itu memberi keuntungan besar pada Jokowi. Sebab selama ini Jokowi sudah memberi bukti. Sebaliknya calon lain baru pada tataran janji yang masih berada di ruang imajiner.

"Pak Jokowi sudah membuktikannya. Kita bisa melihat secara seksama di sekitar kita bagaimana infrastruktur penunjang ekonomi kerakyaatan dibangun. Kita juga bisa melihat sejumlah program yang telah diluncurkan Presiden Jokowi terkait kesejahteraan masyarakat, seperti dana kesehatan, sekolah, dan dana desa. Lagi-lagi ini bisa dibuktikan, bukan sekadar diucapkan," kata Meutya, Selasa (9/4/2019)

Segala pembuktian soal kinerja di sektor kesejahteraan dan ekonomi ini juga ditunjang rencana jangka panjang Jokowi. Rencana jangka panjang itu adalah mempersiapkan pembangunan manusia lewat tiga program utama, yakni Kartu KIP Kuliah, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Pra-Kerja.

Ketiga program itu, jelas Meutya, adalah bentuk kesinambungan dari program yang telah berjalan di periode pertama pemerintahan Jokowi. Ketiga program itu juga merupakan program yang bisa diukur dan segera dirasakan manfaatnya selepas Jokowi dilantik sebagai presiden di periode kedua pemerintahannya.

Tiga program itulah yang selama ini disosialisasikan Jokowi sepanjang kampanye terbuka.

"Dalam debat nanti pula kita dapat melihat bagaimana program paslon 01 jelas manfaatnya, realistis pelaksanaannya, dan terukur hasilnya," kata Meutya.

Di saat calon lain terus berbicara tentang pesimisme, lanjut Meutya, Jokowi akan terus menebar optimisme pada debat terakhirnya. Sebab, lanjut Meutya, bekal semangat dan optimisme seorang pemimpin akan menjadi contoh bagi rakyatnya.

"Jokowi adalah pemimpin yang memberi contoh bagaimana kerja keras dengan optimisme dan semangat bisa mengantarkan keberhasilan. Dengan semangat dan usaha keras, seorang pria pernah tinggal di pinggiran kali di Kota Solo bisa menjadi presiden Republik Indonesia. Inilah contoh nyata dari Jokowi yang penuh semangat dan optimisme," jelas Meutya.

Sebaliknya, pemimpin yang menebar pesimisme dan narasi negatif justru mencerminkan contoh yang tidak baik bagi rakyat.

"Tak ada negara maju yang dibangun dengan narasi pemisme. Maka itu, kita pilih pemimpin yang gemar menebar optimisme untuk menbawa Indonesia sebagai negara maju," tutup Meutya.



Sumber: BeritaSatu.com