PMKRI Ajak Generasi Milenial untuk Jadi Aktor Politik di Pemilu 2019

PMKRI Ajak Generasi Milenial untuk Jadi Aktor Politik di Pemilu 2019
Acara seminar PMKRI Cabang Yogyakarta bersama Pengurus Pusat PMKRI bertema “Peran Generasi Milenial dalam Menyukseskan Pemilihan Umum yang Jujur dan Damai” di Yogyakarta, Selasa (9/4). ( Foto: beritasatu.com / yustinus paat )
Yustinus Paat / WM Selasa, 9 April 2019 | 20:48 WIB

 

Yogyakarta, Beritasatu.com - Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Yogyakarta bersama Pengurus Pusat PMKRI menyelenggarakan seminar nasional bertema “Peran Generasi Milenial dalam Menyukseskan Pemilihan Umum yang Jujur dan Damai” di Yogyakarta, Selasa (9/4/2019).

Seminar ini dihadiri oleh sejumlah narasumber, antara lain, Alfred Nabal dari Pengurus Pusat PMKRI, Astra Tandang dari PMKRI Cabang Yogyakarta, Kombes Rudi dari Polda DIY, Puguh Windrawan dari Hicon Law and Polity Strategic, Ahmad Sidqi dari KPU DIY, dan Indra Haryanto dari Dispora Kota Yogyakarta.

Seminar ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa di Kota Yogyakarta.

Alfred Nabal menyampaikan, peran generasi milenial bukan hanya menjadi objek pasif yang sebatas memberikan keuntungan elektoral bagi kontestan pemilu, tetapi sebagai subjek mandiri yang memiliki kekuatan untuk menentukan arah pesta demokrasi.

“Generasi milenial adalah aktor politik yang mampu mengarahkan Pemilu 2019 menjadi pemilu yang jujur dan damai,” kata Alfred.

Kemudian, Alfred menambahkan, tantangan yang dihadapi pemilu 2019 ini adalah golput dan upaya mewujudkan pemilu yang jujur dan damai. Sebagai aktor politik, kata dia, generasi milenial merupakan tipe pemilih rasional.

"Keterlibatan mereka untuk ikut memberikan suara dalam pemilu 2019 turut membawa demokrasi kita ke arah yang lebih baik, karena mereka akan memilih karena alasan-alasan rasional," ungkap dia.

Selain itu, peran penting lainnya dari generasi milenial diwujudkan melalui gerakan relawan seperti Kawal Pilpres dan Kawal Pemilu. “Saya mengajak sesama generasi milenial untuk terlibat menjadi relawan kawal pilpres dan kawal pemilu demi memastikan pemilu kita berlangsung jujur dan transparan. Kedua gerakan ini berbasis digital,” imbuh Alfred.

Puguh Windrawan dari Hicon Law and Polity Strategic mengkritisi persoalan kampanye yang terlalu lama. Menurut dia, masa kampanye yang lama membuka ruang terjadinya konflik di masyarakat, munculnya isu-isu SARA yang berkepanjangan.

“Saya merekomendasikan masa kampanye dalam pemilu mendatang tidak terlalu lama,” papar Puguh.

Tangkal Hoax

Sementara itu, Ahmad Sidqi mengajak generasi milenial untuk ikut menangkal pemberitaan-pemberitaan hoax yang dialamatkan kepada KPU, terlebih hal-hal yang mendiskreditkan KPU sebagai penyelenggara negara.

“Di era post truth, fakta-fakta diabaikan, yang muncul di publik adalah berita-berita bohong yang mengaduk emosi publik. Itu harus kita lawan,” tutur Ahmad.

Indra Haryanto mengajak generasi milenial untuk menjadi pemilih cerdas daripada menjadi pemilih pintar. “Pemilih cerdas berarti melihat orang (peserta pemilu) dari segi kelayakan, sedangkan pemilih pintar memilih kandidat berdasarkan seni tipu daya dan tipu muslihat yang dia gunakan,” ungkap Indra

Kemudian, Astra Tandang menyampaikan pentingnya peran generasi milenial dalam proses demokrasi di Indonesia, tidak hanya demokrasi prosedural seperti pemilu, tetapi juga demokrasi dalam arti yang lebih substantif.

“Peran generasi milenial pasca pemilu pun sangat penting untuk memastikan pemerintahan baru nanti berjalan dengan baik,” tutur Astra

Kombes Rudi mengajak generasi milenial untuk menjadi pengguna media sosial yang baik dan ikut terlibat dalam pemilu 17 April 2019.



Sumber: BeritaSatu.com