Jokowi Dinilai Jalankan Falsafah Si Tou Timou Tumou Tou

Jokowi Dinilai Jalankan Falsafah Si Tou Timou Tumou Tou
Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) bergembira dengan foto-foto bersama para pendukungnya saat kampanye terbuka di Stadion Singaperbangsa Karawang, Jawa Barat, Senin 9, April 2019. ( Foto: Beritasatu.com / Markus Junianto Sihaloho )
Carlos KY Paath / JAS Selasa, 9 April 2019 | 23:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Karakter kepemimpinan calon presiden (capres) 01, Joko Widodo (Jokowi) terbentuk dari napas dan jiwa arus bawah. Sebagaimana Jokowi yang juga petahana sejatinya berasal, Jokowi juga mengimplementasikan falsafah Si Tou Timou Tumou Tou.

Demikian diungkap Wakil Kepala Rumah Aspirasi Jokowi-Ma’ruf Amin, Michael Umbas dalam keterangan seperti diterima Beritasatu.com, Selasa (9/4).

“Ada falsafah terkenal dari Pahlawan Nasional asal Minahasa GSJJ Sam Ratulangi yaitu Si Tou Timou Tumou Tou atau manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Banyak makna yang terkandung dari filosofi itu,” kata Umbas.

Umbas pun menyebut, “Jokowi menjalankan falsafah Sam Ratulangi dengan menghadirkan program dan kebijakan yang mengangkat derajat manusia dan rakyat Indonesia tanpa membeda-bedakan asal-usul dan identitas.”

Umbas menuturkan, capres 02 Prabowo Subianto pernah mengungkap memiliki darah Minahasa. Namun, sesungguhnya falsafah Ratulangi yang mengusung konsep kemanusiaan hakiki tidak tampak dari Prabowo.

Umbas menyatakan, di Minahasa tidak ada budaya pemimpin marah-marah, membentak dan merendahkan yang lain, apalagi rakyatnya sendiri. Nilai-nilai kultur keminahasaan yang meskipun egaliter, lanjut Umbas, tapi tetap sarat akan penghargaan nilai-nilai kemanusiaan.

“Tidak ada dalam sejarah Minahasa pemimpin menggebrak-gebrak meja lalu membentak dan menakut-nakuti. Karakter kepemimpinan Jokowi ibarat bumi dan langit jika dibanding Prabowo,” ungkap Umbas.

Umbas mengatakan, Jokowi selalu tampil penuh optimisme, menyatu dengan rakyat, menginspirasi dan visioner serta apa adanya. Sementara Prabowo cenderung menghadirkan pesimisme, ketakutan, emosional dan bahkan beberapa kali mengeluarkan kata-kata tak pantas.

Rakyat tentu mencermati setiap tampilan kampanye dan orasi dari Prabowo. Perkataan kasar hanya akan menjatuhkan kredibilitas pemimpin di mata rakyatnya. Belum lama ini, Prabowo menyebut Ibu Pertiwi sedang diperkosa. Tak hanya itu, muncul diksi “bajingan” dari mulut Prabowo.

“Jokowi selalu menyampaikan bahwa demokrasi semestinya diisi kegembiraan. Bukan justru menakuti masyarakat atau menghadirkan narasi-narasi pesimisme,” ucap Umbas yang juga putra Minahasa tersebut. 



Sumber: Suara Pembaruan