Pesta Demokrasi Harus Disambut Gembira Bukan Amarah

Pesta Demokrasi Harus Disambut Gembira Bukan Amarah
Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi. ( Foto: istimewa )
Fana Suparman / CAH Rabu, 10 April 2019 | 08:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma'ruf Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi mengingatkan para pendukung pasangan calon presiden Jokowi-Ma'ruf Amin untuk menyambut hari pencoblosan Pemilu serentak 2019 pada 17 April mendatang dengan kegembiraan. Dedi menyatakan, pemilu merupakan pesta demokrasi yang seharusnya disambut dengan kebahagiaan, bukan dengan amarah.

Hal ini dikatakan Kang Dedi, di sela-sela kampanye akbar Jokowi-Ma'ruf di Karawang, Selasa (9/4/2019).

"Demokrasi itu jangan terlihat menegangkan, harus dibawa dengan rasa gembira dan menyenangkan," kata Dedi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (10/4).

Dedi menyatakan, demokrasi yang menyenangkan itu dengan cara membuat rakyat bahagia, bukan malah menebar kebencian serta fitnah ke masyarakat. Dikatakan, sejarah demokrasi Indonesia sejak dulu hingga saat ini selalu santai dan tidak pernah tegang.

"Sebetulnya, demokrasi itu menyenangkan. Asal, statement pemimpinnya yang membahagiakan dan menyejukkan, bukan yang mengajak pertikaian, atau menyebarkan hoax, permusuhan, itu tidak ada dalam demokrasi Indonesia. Dari dulu juga demokrasi kita santai, tidak pernah tegang," kata Dedi Mulyadi.

Mantan Bupati Purwakarta ini meminta seluruh elemen pendukung Jokowi-Ma'ruf untuk fokus mengampanyekan program dan visi misi pasangan capres-cawapres nomor urut 01 tersebut. Selain itu, Dedi juga meminta masyarakat tidak merasa takut menghadapi pesta demokrasi ini.

"Sudah seharusnya begitu, santai, dari dulu juga udah santai, baru kali ini aja dibuat tegang, walau sesungguhnya masyarakat lapis bawah tidak ada problem, yang sibuk itu di medsos saja," ujar Dedi Mulyadi.

Dalam kesempatan ini, Dedi menyatakan, target 60 persen suara di Karawang yang disampaikan Jokowi saat berorasi di Stadion Singa Perbangsa Karawang merupakan target yang realistis. Dedi meyakini target tersebut akan tercapai. Hal ini lantaran pada Pilpres 2014, Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla mampu meraih 40 persen suara di Karawang.

"Target 60 persen di Kabupaten Karawang sangat realistis. Kita bisa melihat dari waktu ke waktu ada grafik elektabilitas yang naik dan memadai," katanya.

Dijelaskan Dedi, kebijakan-kebijakan Jokowi selama ini langsung bersentuhan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat seperti penanganan pendidikan, bantuan pangan non tunai, jaminan sekolah serta renovasi rumah. Menurutnya, saat ini yang menjadi fokus adalah program pra-kerja yang harus terintegrasi. Tidak hanya orang yang mencari kerja, tapi juga pembenahan sistem pendidikan agar link and match antara dunia pendidikan dan industri.

"Infrastruktur kan semakin baik, pendidikan harus terintegrasi dengan dunia industri, hari ini bukan persoalan orang menganggur, tapi soal profesionalisme di industri yang belum semuanya terpenuhi, sehingga sekolah-sekolah harus mulai diarahkan dalam pendidikan produktif," paparnya.

Pendidikan produktif berbasis Industri menurut ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat tersebut, sangat cocok diterapkan di Kabupaten Karawang yang merupakan daerah Industri. Menurutnya, para pelajar SMK seharusnya lebih banyak menambah pengalaman di dunia kerja ketimbang dijejali teori di sekolah.

"Untuk anak SMK teorinya cukup satu tahun, sisanya mereka magang di perusahaan-perusahaan. Setelah lulus sekolah mereka bisa langsung bekerja di tempat itu, maka dengan itu pengangguran akan berkurang," paparnya.

Demikian juga untuk sekolah tinggi, Dedi menyarankan agar fokus membentuk anak didik menjadi seorang manajer. Dikatakan, pendidikan manajer ini pernah diterapkan Dedi saat memimpin Purwakarta. Program tersebut telah melahirkan lebih dari 500 manajer baru di perusahaan.

"Perusahaan yang membentang di Karawang, Subang, Bekasi memerlukan manajer baru dan handal, pendidikannya harus terintegrasi dengan dunia industri. Jadi, industri tidak perlu mencari SDM ke daerah lain saat membutuhkan sumber daya manusia untuk perusahaannya," tegasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan