TKN: Jangan Pilih Capres yang Emosional

TKN: Jangan Pilih Capres yang Emosional
Ketua DPP PKB Abdul Kadir Karding saat di rumah duka gitaris Seventeen Herman Sikumbang ( Foto: BeritaSatu TV )
Hendro D Situmorang / AMA Rabu, 10 April 2019 | 12:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin meminta masyarakat Indonesia untuk jeli dalam memilih presiden 17 April mendatang. Pemilih diminta untuk memilih calon yang emosinya stabil, dan bukan orang yang suka marah-marah.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua TKN, Abdul Kadir Karding dalam keterangan tertulisnya yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Rabu (10/4/2019) menanggapi sosok Prabowo yang semakin menunjukkan karakter emosi yang tak terkontrol.

Itu tergambar mulai dari debat keempat saat Prabowo marah kepada penonton, lalu pada rapat akbar di GBK, 7 April lalu, Prabowo sempat marah kepada salah satu pendukungnya yang terlihat mengobrol saat dia berpidato.

Tak hanya itu, ucapan Prabowo pun tidak terjaga dengan melontarkan kata-kata kasar nan emosional, seperti 'ndas mu'. Puncak dari ketidakstabilan karakter Prabowo terbongkar saat dia berpidato dengan memukul-mukul podium dengan cara yang brutal Segala fakta itu membuktikan bagaimana perangai emosinal Prabowo.

"Pemimpin yang emosinya tidak stabil seperti itu akan sangat berbahaya saat memegang tampuk kekuasaan negara. Sebab rakyat akan terancam dan jadi korban dari pemimpin yang emosinya tidak stabil," kata Abdul Kadir Karding.

Pernyataan Abdul Kadir Karding ini juga didukung oleh hasil riset dari 204 ahli psikologi Universitas Indonesia. Hasil survei terhadap psikologi kedua capres menunjukkan kepribadian Jokowi dinilai lebih tenang dibanding Prabowo.

Jika diukur dengan angka 1 sampai 10, poin untuk stabilitas emosi Prabowo berada pada angka 5,16. Sedangkan Jokowi 7,60 dalam hal ketenangan dalam menghadapi persoalan yang berat.

Sementara tentang sikap otoriter dan demokratis, Jokowi hanya 13% memiliki kemungkinan otoriter sedangkan Prabowo 76%. Soal demokratis, Jokowi memiliki angka 87 persen dan Prabowo hanya 24 persen.

Ukuran analisis psikologis itu diinilai menjadi bukti sahih bagi pemilih agar memilih pemimpin yang stabil. "Berbahaya sekali apabila bangsa ini diserahkan pada pemimpin yang tidak stabil. Taruhannya adalah nasib 260 juta rakyat yang terancam menjadi korban," kata Abdul Kadir Karding lagi.

Sebaliknya, Abdul Kadir Karding menilai, Jokowi adalah cermin pemimpin yang punya psikis yang baik. Jokowi mampu bersikap tenang dan tidak mengedepankan emosi saat mengambil keputusan. Hasilnya bisa terlihat dengan semakin baiknya iklim bernegara dan demokrasi di Indonesia.

"Jokowi adalah contoh bagaimana seorang pemimpin mampu berpikir jernih. Dia mampu menguasai emosinya. Dan yang terpenting dia adalah pemimpin yang stabil secara psikis," tambah Abdul Kadir Karding.

Menurutnya, dalam menangani negara besar seperti Indonesia, diperlukan pemimpin yang tenang, tidak otoriter, dan pandai dalam memecahkan masalah. "Pemimpin yang emosional bukannya memecahkan masalah tapi akan menciptakan masalah besar," tutup Abdul Kadir Karding.



Sumber: Suara Pembaruan