Pemberian Amplop Berisi Uang untuk Pemilih Dinilai Bentuk Penistaan

Pemberian Amplop Berisi Uang untuk Pemilih Dinilai Bentuk Penistaan
Pengamat politik LIPI Siti Zuhro. (Sumber: lipi.go.id)
Carlos KY Paath / MPA Rabu, 10 April 2019 | 18:27 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Politik uang kepada masyarakat dengan harapan mendapatkan dukungan merupakan bentuk penistaan. Para elite semestinya mengurungkan niat untuk membeli suara masyarakat.

Demikian disampaikan Peneliti LIPI, Siti Zuhro dalam Diskusi Topic of The Week bertajuk “Kampanye 02 Sering Diganggu: Tegakkan Fair Play!” di Kantor Seknas Prabowo-Sandi, Jakarta, Rabu (10/4).

“Pemberian amplop-amplop berisi uang itu zalim. Menistakan masyarakat. Kalau ada elite-elite kita semua yang melakuan penistaan dengan membeikan uang receh, hentikan. Tolong pahami, itu pelecehan,” tegas Siti.

Siti menyatakan, perilaku elite yang menerapkan politik uang sangat menghambat proses demokrasi. “Elite-elite ini mestinya harus ada sensitivitas. Jangan lakukan vote buying dengan memberikan ‘salam tempel’,” ucap Siti.

Siti pun menyebut, “Masyarakat perlu diberi kebijakan bermanfaat, bukan dilempari sembako dan uang-uang receh. Kita punya kepentingan bersama untuk mencerdaskan masyarakat,” ungkap Siti.

Pada kesempatan yang sama, pengamat politik Tony Rosyid mengungkap, serangan fajar berupa politik uang pada hari pemungutan suara sejatinya sudah lama terjadi. “Pembagian amplop serangan fajar dari dulu penyakit ini. Idealnya memang tidak ada amplop yang beredar,” kata Tony.

Akan tetapi, menurut Tony, masyarakat di desa justru ‘panen raya’ ketika ada perhelatan pesta demokrasi. “Ada tim untuk menyebar, termasuk panwas di kampung. Sebegitu vulgarnya. Hanya saja apesnya kemarin itu tertangkap,” ungkap Tony merujuk kasus Bowo Sidik Pangarso yang menyiapkan 400 ribu amplop untuk serangan fajar.



Sumber: Suara Pembaruan