PPP dan Hanura Terancam Tergusur dari Senayan

PPP dan Hanura Terancam Tergusur dari Senayan
Kursi kosong saat rapat paripurna DPR. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / FER Rabu, 10 April 2019 | 21:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemilu 2019 yang tinggal hitungan hari menjadi pertaruhan bagi partai-partai lama di Senayan. Dua partai politik terancam gagal mempertahankan kursi, yaitu PPP dan Hanura. Di antara keduanya, Hanura dalam berbagai survei selalu menempati posisi buncit di antara partai-partai Senayan.

Baca Juga: KPU Pastikan Nama OSO Tidak Ada di Surat Suara

Survei Polmatrix Indonesia menunjukkan elektabilitas Hanura sebesar 1,1 persen, sedangkan PPP 2,7 persen. Dengan memperhitungkan margin of error, di atas kertas sulit bagi Hanura untuk dapat menembus ambang batas parlemen. PPP masih berpeluang, tetapi elektabilitasnya jauh di bawah partai-partai papan tengah lainnya.

"PPP dan Hanura sama-sama mengalami persoalan internal, warisan konflik yang belum terselesaikan. Dua kubu masih terbentuk di PPP, sedangkan ketua umum Hanura Osman Sapta Odang masih berjuang untuk maju lewat jalur senator,” ungkap Direktur Riset Polmatrix Indonesia, Dendik Rulianto, dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Baca Juga: Terima Kasih KIH, PPP, Golkar, 212, dan FPI

Menurut Dendik, penangkapan ketua umum Romahurmuzy oleh KPK berpotensi pula menurunkan suara PPP dalam Pileg.

"Sementara itu gugatan OSO terhadap KPU supaya diperbolehkan maju sebagai caleg DPD mencerminkan apatisme di tubuh Hanura. Sebagian kader Hanura ditengarai memilih pindah ke partai lain di arena Pileg," ungkap Dendik.

Konflik internal, lanjut Dendik, pernah pula membayangi Golkar, tetapi dapat segera diselesaikan. Meskipun demikian perbedaan pandangan tetap mengemuka di antara kader-kader Golkar dalam menyikapi dukungan terhadap Pilpres. Demokrat yang sudah relatif sepi dari konflik juga terbelah sikapnya dalam Pilpres.

"Berbeda dengan Golkar dan Demokrat, posisi PPP dan Hanura adalah juru kunci pada Pemilu 2014. Elektabilitas Golkar bertengger di angka 9,6 persen, sedangkan Demokrat 5,6 persen. PPP dan Hanura juga terancam oleh kehadiran parpol-parpol baru, seperti Partai Solidaritas Indonesia (3,9 persen) dan Perindo (1,9 persen)," terang dia.

Baca Juga: KPK Duga Ada Pejabat Kemag Bekerja Sama dengan Rommy

Dua parpol besar PDIP dan Gerindra masih unggul jauh di atas semua parpol. Elektabilitas PDIP mencapai 26,8 persen, sedangkan Gerindra 15,1 persen. Lalu PKB sebesar 8,2 persen.

"Wajar jika PDIP dan Gerindra mendapat elektabilitas tertinggi karena PDIP merupakan parpol utama pengusung paslon Jokowi-Ma’ruf, sedangkan Gerindra mengusung Prabowo-Sandi," tutur Dendik.

Terkait Pilpres 2019, kata Dendik, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 56,6 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 35,1 persen, dan sisanya 8,3 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

"Jika diekstrapolasikan, Jokowi-Ma’ruf berpeluang memenangkan Pilpres dengan elektabilitas 61,7 persen. Prabowo-Sandi cukup puas dengan 35,1 persen," pungkas Dendik.

Survei Polmatrix Indonesia dilakukan pada rentang waktu 1-7 April 2019, dengan jumlah responden 2000 orang. Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) dengan margin of error lebih kurang 2,2 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.



Sumber: BeritaSatu.com