Advokat Indonesia Bersatu Dukung 02, Fenomena Kebangkitan Kaum Intelektual

Advokat Indonesia Bersatu Dukung 02, Fenomena Kebangkitan Kaum Intelektual
Capres 02 Prabowo Subianto saat kampanye akbar, di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (7/4/2019) ( Foto: istimewa )
Asni Ovier / AO Kamis, 11 April 2019 | 16:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sejak reformasi 1998, kalangan intelektual Indonesia, tak terkecuali para akademisi di kampus-kampus, bermanuver di langit kekuasaan demi uang dan jabatan. Sebagian di antaranya mendirikan laboratorium (lembaga survei dan konsultan) politik, lalu berubah menjadi benalu demokrasi. Parasit yang bikin pohon demokrasi meranggas.

Maka, kemunculan Aliansi Advokat Indonesia Bersatu yang diinisiasi pakar hukum berintegritas Otto Hasibuan dan kawan-kawan, yang petang nanti, Kamis (11/4/2019) akan mendeklarasikan mendukung pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga S Uno menjadi sangat fenomenal.

“Di tengah zaman pragmatisme yang melanda dunia intelektual kita saat ini, apalagi dilihat dari namanya yang 'Advokat Indonesia Bersatu', wajarnya mereka dukung pasangan nomor 01 (Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin) yang berkuasa dan sedang memegang seluruh sumberdaya di negeri ini, uang dan kekuasaan,” tutur Ketua Umum Perkumpulan Swing Voter, Adhie M Massardi di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Tapi, ujarnya, Otto Hasibuan adalah pakar hukum yang gelisah melihat kondisi dunia peradilan yang morat-marit. Instrumen hukum dijadikan alat kekuasaan untuk membungkam opisisi. Pengadilan jadi panggung dagelan, karena vonis sudah disiapkan dan hakim tinggal membacakan saja.

Akibatnya, di pengadilan, pasal-pasal hukum (KUHAP) tidak bisa dieksplorasi dengan instrumen keilmuan yang kelak bisa melahirkan jurisprudensi. Sebab fakta hukum di pengadilan yang digali dengan susah payah oleh para advokat, diabaikan oleh hakim yang sudah di-setting.

“Saya percaya dengan mendukung dan ikut andil memenangkan Prabowo-Sandi, obsesi Otto Hasibuan dkk untuk menegakkan supremasi hukum berkeadilan di negeri ini menjadi lebih mudah. Sebab, Prabowo sendiri adalah korban dari ketidakadilan,” tutur Adhie.

Menurut Juru Bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, mobilisasi advokat Indonesia untuk mendukung Prabowo-Sandi bukan langkah pragmatisme, apalagi partisan. Karena, fakta di medan pemilu, paslon 02 ini yang banyak mendapat rintangan dan diintimidasi.

“Saya malah jadi teringat gerakan ribuan advokat di berbagai kota di Pakistan pada pertengahan 2008, yang demonstrasi menentang Presiden Pervez Musharraf karena menggunakan hukum penguasa untuk nindas orang dan kelompok yang berbeda pendapat (oposisi) dengan pemerintah.”

Gerakan moral para advokat ini kemudian diikuti oleh kalangan intelektual lain. Sehingga, tak sampai dua bulan, gerakan itu berhasil memaksa Musharraf mundur. “Saya berkeyakinan gerakan Aliansi Advokat Indonesia ini akan menjadi fenomena kebangkitan kaum intelektual di negeri ini, sehingga mengguncang kesadaran moral kalangan intelektual, khususnya di kampus-kampus, agar berani manjalankan tugas moral kaum cerdik pandai terhadap bangsa dan negaranya,” ujar Adhie.

Dikatakan, jika kesadaran intelektual kaum cerdik pandai di negeri ini bisa tumbuh kembali, maka setelah Pilpres 2019, Indonesia akan kembali hidup dalam kedamaian, tidak terpolarisasi akibat para politisi busuk memainkan peran penting di pentas kekuasaan.

“Kalau itu terjadi, saya yakin teman-teman Aliansi Advokat Indonesia akan kembali ke medan juang mereka masing-masing, untuk menjadi bagian penting penegakkan hukum dan keadilan di negeri ini,” kata Adhie Massardi.



Sumber: BeritaSatu.com