Kasus Amplop Cap Jempol, Waketum Gerindra Minta KPK Periksa Dirut Bank BTN

Kasus Amplop Cap Jempol, Waketum Gerindra Minta KPK Periksa Dirut Bank BTN
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Hotman Siregar / WM Kamis, 11 April 2019 | 12:32 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Waketum DPP Gerindra Arief Poyuono mengatakan, pecahan 20 ribuan di amplop putih cap jempol yang jumlahnya Rp 8 miliar yang dikumpulkan sama Bowo Pangarso atas perintah Nusron Wahid merupakan pekerjaan sulit.

"Dan tidak mungkin pecahan duit 20 ribu itu didapat dari Bank Indonesia, pasti dari bank operasional seperti bank BUMN seperti Bank BTN," ujar Arief kepada Beritasatu.com Rabu (10/4/2019).

Arief menginformasikan bahwa Bowo Pangarso masih family-nya Dirut Bank BTN. Sehingga dugaan Bowo Pangarso disuruh Nusron Wahid, menurutnya, sangat kuat. Nusron juga koordinator pemenangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin di Jawa Tengah.

Selain itu, ungkap dia, ada Dirut Bank BUMN yang ditugaskan untuk memenangkan Joko Widodo - Ma'ruf Amin di Jawa Tengah yang sering banget turun ke Jawa Tengah.

"Nah KPK harus panggil juga dong Dirut Bank BTN untuk dimintai keterangan kasus Bowo Pangarso. Siapa tahu banyak juga Tim dari TKN yang menukar pecahan uang Rp 20 ribu di Bank BTN dari uang Haram alias uang hasil malakin BUMN untuk disebar pakai amplop cap jempol," katanya.

Yang pasti, sambung Arief, kalau Nusron Wahid merasa tidak menyuruh Bowo Pangarso maka sebaiknya segera mendatangi KPK. Tujuannya untuk memberikan penjelasan ke KPK terkait pengakuan Bowo Pangarso



Sumber: Suara Pembaruan