Pemilu Harus Damai dan Menjunjung Tinggi Persaudaraan

Pemilu Harus Damai dan Menjunjung Tinggi Persaudaraan
PEMILU DAMAI - Warga melintas di depan mural bergambar partai politik peserta Pemilu 2019 di Kelurahan Gunung Batu, Kota Bogor, Jawa Barat, 3 Februari 2019. Mural yang dibuat secara swadaya oleh warga di wilayah tersebut sekaligus untuk mensosialisasikan gambar partai politik peserta Pemilu 2019 kepada masyarakat. ( Foto: Antara / Arif Firmansyah )
Yeremia Sukoyo / WM Rabu, 10 April 2019 | 20:07 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Nurcholish Madjid Society, Maarif Institute, Wahid Foundation, Jaringan Gusdurian dan Yayasan Terang Surabaya menggelar Forum Titik Temu, di Ritz Carlton Hotel, Jakarta, Rabu (10/4/2019). Pembahasan yang diangkat terkait menguatnya intoleransi, ekslusivisme dalam beragama, dan ujaran kebencian yang dirasa semakin menguat.

Ketua Nurcholish Madjid Society, Muhamad Wahyuni Nafis, menegaskan, saat ini sudah saatnya semua pihak dapat menghentikan situasi intoleransi, eksklusivisme dalam beragama, ujaran kebencian, merebaknya hoax dan fitnah, hingga politik aliran yang makin menguat.

"Ada keprihatinan dari kami bersama, baik sebagai bangsa Indonesia maupun sebagai warga dunia. Keprihatinan atas situasi intoleransi, eksklusivisme dalam beragama, terorisme, ujaran kebencian, merebaknya hoax dan fitnah, serta politik aliran yang makin menguat. Semua harus dihentikan," kata Muhamad Wahyuni Nafis.

Dijelaskan, kegiatan tersebut juga merupakan tindak lanjut dan upaya meneruskan seruan dari Dokumen Persaudaraan Insani yang dideklarasikan pada pertemuan antara Pemimpin Umat Katolik Dunia, Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al Azhar Sayyed Ahmed al Tayyeb dan sekitar  400 pemuka agama dunia di Abu Dhabi pada 4 Februari 2019 lalu.

Dokumen Persaudaraan Insani tersebut mengingatkan umat manusia di seluruh dunia untuk selalu menjalin persahabatan, persaudaraan, saling menghormati dan tidak mempolitisasi agama demi kepentingan politik praktis.

Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam Dokumen Persaudaraan Insani, Forum Titik Temu bertujuan memperkuat persaudaraan dan perdamaian, mengajak seluruh umat manusia untuk mengecam segala bentuk teror, ekstremisme serta semua hal yang merusak harmoni dan kedamaian kehidupan bersama.

Koordinator Jaringan Nasional Gusdurian, Alissa Wahid mengingatkan, Pemilu yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, bukanlah akhir dari seluruh perjalanan Bangsa Indonesia. Pemilu adalah proses demokrasi yang harus dilalui dengan damai dan menjunjung tinggi persaudaraan, terlepas dari siapapun pemenangnya.

"Kami mengingatkan bahwa Pemilu ini bukan hari kiamat. Siapapun yang menang dan kalah kita tetap bersaudara. Kita tetap sama-sama manusia Indonesia dan itu sudah diingatkan oleh para pemimpin kita," kata Alissa Wahid.

Saat ini dirinya sangat menyayangkan pihak tertentu yang mengaitkan kontestasi politik dengan agama untuk kepentingan dan meraup dukungan. Kondisi semacam ini sangat berbahaya karena masyarakat akan melihat kontestasi sebagai bentuk pembelaan terhadap kepentingan agama.

Dikhawatirkan, ketika berbeda pilihan, akan timbul perpecahan bahkan di dalam sesama komunitas agama. Hal tersebut, menurut Alissa adalah sebuah sikap yang sangat salah.

"Kalau kamu agamanya sama dengan saya, berarti kamu harus mendukung tokoh yang ini, kalau kamu mendukungnya tokoh yang itu maka kamu sebetulnya tidak memperjuangkan agama kita, itu adalah sesuatu yang sangat salah," ujarnya.

Putri sulung Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid itu mengingatkan, publik juga harus disadarkan dengan pemahaman dan potensi perpecahan menggunakan agama sebagai alat politik. Seharusnya, setiap pemeluk agama dapat menghormati hak-hak agama lainnya.

Dengan Forum Titik Temu yang menghadirkan semangat persaudaraan dan perdamaian antarumat beragama diharapkan dapat menjadikan kehidupan bangsa dan negara menjadi damai, khususnya ketika Pemilu berlangsung.



Sumber: Suara Pembaruan