PSI: Metode Saint Lague Menguntungkan Kami

PSI: Metode Saint Lague Menguntungkan Kami
Petugas lepas melakukan pelipatan kertas surat suara pemilihan presiden di KPUD Jakarta Barat, Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa 19 Februari 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )
Yustinus Paat / WM Kamis, 11 April 2019 | 21:26 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com  - Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Andy Budiman mengatakan, konversi suara menjadi kursi dengan metode saint lague lebih menguntungkan partai kecil seperti PSI. Pasalnya, suara yang akan diberikan kepada PSI akan lebih efektif dibandingkan diberikan kepada partai besar, seperti PDIP, Gerindra, dan Golkar.

"Justru jika diberikan kepada partai besar, banyak suara yang hangus dan jadinya tidak efektif. Namun, kalau diberikan kepada PSI akan lebih efektif, suara hangus akan kecil," ujar Andy di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Andy menjelaskan, dengan metode saint lague, suara sah partai politik akan dibagi dengan bilangan ganjil, yakni 1, 3, 5, 7 dan seterusnya untuk memperoleh kursi. Menurut dia, jarak pembagian suara sah dari 1 ke 3 dan seterusnya cukup besar sehingga banyak suara yang hangus di partai-partai besar.

"Nah, kalau di partai kecil kan suaranya efektif, nanti dapat satu kursi per dapil, tetapi suaranya terkonversi menjadi kursi dan sedikit suara yang hangus,"  katanya.

Andy mengakui bahwa basis penetapan kursi adalah suara sah partai politik yang memenuhi parliamentary threshold atau ambang batas lolos parlemen 4 persen. Pihaknya, kata dia, optimistis akan melampaui angka PT 4 persen.

"Kami optimistis lolos PT 4 persen. Apalagi sejumlah survei menunjukkan elektabilitas PSI terus naik. Kemarin survei Charta Politika, elektabilitas PSI di angka 2,2 persen, dengan margin of error ± 2,19 persen. Itu artinya, PSI bisa mencapai PT 4 persen," jelas dia.

Tiga Alasan

Andy menyebutkan tiga alasan PSI optimistis  lolos PT 4 persen. Pertama, ada preseden pada Pemilu 2014 di mana dua partai, PKS dan Nasdem, yang satu bulan sebelum Pileg 2014, dinyatakan oleh lembaga survei angka elektabilitasnya sekitar tiga persen dan pada saat Pileg, perolehan suaranya menjadi enam persen.

"Alasan kedua, umumnya pemilih PSI adalah orang yang ekonominya menengah ke atas dan kalangan terdidik. Dari hasil survei juga, moyoritas orang yang ekonominya menengah ke atas dan dari kalangan terdidik, tidak mau menjawab atau menyatakan pilihannya saat ditanya oleh lembaga survei. Nah, pada saat pemungutan suara, kami yakin mereka akan coblos PSI," ungkap dia.

Alasan ketiga, lanjut Andy, komunikasi politik PSI yang tersampaikan ke publik. Menurut Andy, apa yang diperjuangkan PSI, yang getol menolak korupsi dan gerakan intoleransi mendapat apresiasi dari masyarakat Indonesia.

"Dari hasil survei juga tergambar bahwa PSI dikenal dan publik memilih PSI karena figur Ketum kami Grace Natalie dan tertarik pada program PSI. Itu artinya komunikasi politik PSI biasanya disampaikan oleh Ketum Grace di acara Festival 11, efektif mendorong PSI lolos parlemen," kata Andy.



Sumber: BeritaSatu.com