Bangsa Indonesia di Persimpangan Jalan, PSI: Jalan Nomor 1 adalah Jalan Terang, Nomor 2 Jalan Gelap

Bangsa Indonesia di Persimpangan Jalan, PSI: Jalan Nomor 1 adalah Jalan Terang, Nomor 2 Jalan Gelap
Raja Tabanan ke-27, Ida Cokorda Anglurah Tabanan bersama Ketum PSI Grace Natalie dan jajaran DPP PSI di Kediaman Raja Ida, Tabanan, Bali, Sabtu (16/3). ( Foto: istimewa )
Yustinus Paat / WM Kamis, 11 April 2019 | 22:18 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie menyatakan, Indonesia sedang berdiri di sebuah persimpangan. Bangsa Indonesia, kata Grace, diberi pilihan jalan yang menjadi skenario Indonesia masa depan.

Hal itu disampaikan Grace dalam pidatonya di hadapan 2.500 pengurus, kader, dan simpatisan PSI pada acara Festival 11, di Jakarta Internasional Expo Kemayoran, Jakarta (11/04/2019).

“Jalan nomor satu adalah jalan yang akan membawa kita menuju Indonesia yang jaya. Indonesia yang demokratis, stabil, dan rakyatnya sejahtera. Jalan yang fondasinya sedang dipersiapkan oleh Pak Jokowi lewat pembangunan infrastruktur besar-besaran, dengan skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya sejak republik ini berdiri,” kata Grace Natalie dalam pidatonya.

Jalan nomor satu ini, kata Grace, adalah sebuah jalan yang nyata, bukan sesuatu yang mustahil. Berbagai lembaga keuangan kredibel kelas dunia memperkirakan bahwa Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi utama dunia di masa depan.

"Price Waterhouse Coopers PWC memprediksi pada 2050, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor empat dunia. Kita hanya ada di bawah RRT, US, dan India. Sesuatu yang tak pernah kita, atau bahkan para founding fathers dulu bayangkan, akan terjadi pada bangsa ini,” ungkap Grace Natalie.

Namun, menurut Grace, skenario ini bisa musnah jika kita memilih jalan nomor dua. Menurutnya, jalan nomor dua adalah sebuah jalan yang gelap, jalan penuh onak. Jalan yang akan membawa masa depan suram di mana negeri ini terperangkap oleh konflik SARA. Pertikaian antar kelompok yang tidak ada habisnya sebagaimana kita lihat terjadi di Irak, Suriah, dan Afghanistan. Sebuah skenario yanng sangat mungkin terjadi karena gejalanya sudah muncul di sekeliling kita.

“Jalan nomor dua adalah sebuah jalan yang gelap, jalan penuh onak. Jalan yang akan membawa masa depan suram di mana negeri ini terperangkap oleh konflik SARA. Pertikaian antar kelompok yang tidak ada habisnya sebagaimana kita lihhat terjadi di Irak, Suriah, dan Afghanistan. Sebuah skenario yanng sangat mungkin terjadi karena gejalanya sudah muncul di sekeliling kita,” tegas Grace yang juga Caleg DPR RI Dapil DKI 3 ini (Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu).

Lebih lanjut, Grace mengingatkan, para pollsters telah memberi peringatan bahwa masyarakat Indonesia semakin tidak toleran. Situasi ini, kata dia, sekarang coba ditunggangi oleh para kekuatan politik yang bersedia menggunakan berbagai cara untuk meraih kekuasaan.

"Kekuatan politik gelap ini dikelilingi oleh kelompok-kelompok ekstrim, kelompok-kelompok intoleran yang sering memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Inilah "Unholy Alliance", aliansi kotor antara politisi yang bersedia melakukan apa saja demi kekuasan, yang berselingkuh dengan kelompok fasis, kelompok yang merasa dirinya paling suci, yang ingin menghancurkan NKRI dan menggantinya dengan ideologi lain” pungkas Grace.

Hadir dalam acara festival 11 itu Sekjen PSI Raja Juli Antoni, jajaran pengurus DPP PSI dan para juru bicara PSI. Pakar Komunikasi Ade Armando, Aktivis Perempuan Neng Dara Affiah, Pakar Pendidikan Henny Supolo, Pegiat Media Sosial Denny Siregar dan Pendiri Partai Amanat Nasional Abdillah Toha.



Sumber: BeritaSatu.com