PSI Akan Jadi Political Disruption di Parlemen

PSI Akan Jadi Political Disruption di Parlemen
Calon presiden petahana Joko Widodo menyapa pendukungnya, saat berkampanye di gedung PLUT Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat, kamis 11 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Yustinus Paat / WM Kamis, 11 April 2019 | 22:22 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie menyatakan, Presiden Jokowi perlu partner yang jujur, bekerja keras, dan profesional di parlemen. Untuk itu, PSI siap menjadi partner Presiden Jokowi 2019-2024.

Hal itu disampaikan Grace dalam pidatonya di hadapan 2.500 pengurus, kader dan simpatisan PSI pada acara Festival 11 di Jakarta Internasional Expo Kemayoran, Jakarta (11/4/2019).

Dalam pidatonya, Grace menyatakan, partai politik yang sudah berada pada comfort zone pasti akan sulit berubah, karena sudah merasa nyaman dengan keadaan. Satu-satunya cara mendorong perubahan dan perbaikan dalam politik, adalah dengan mendukung kekuatan baru yang akan menjadi political disruption di parlemen.

“Satu-satunya cara mendorong perubahan dan perbaikan dalam politik, adalah dengan mendukung kekuatan baru yang akan menjadi "political disruption" di parlemen. Kekuatan politik baru yang akan membuat partai lama buru-buru bangun tidur, cuci muka, dan segera berangkat kerja kalau tidak mau ketinggalan,” ujar Grace Natalie.

Lebih lanjut, menurut Grace, kehadiran pemain baru selalu akan membawa perubahan positif. Dalam dunia bisnis, sports, dan berbagai bidang kehidupan lain, kehadiran pemain baru biasanya akan memperbaiki mutu kompetisi.

“Mendorong pemain lama untuk memperbaiki diri, menciptakan iklim di mana semua pihak berlomba melakukan inovasi agar tidak kalah dalam persaingan,” tegas Grace yang juga Caleg DPR RI Dapil DKI 3 ini (Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu) .

Hadir dalam acara festival 11 itu Sekjen PSI Raja Juli Antoni, jajaran pengurus DPP PSI dan para juru bicara PSI, Pakar Komunikasi Ade Armando, Aktivis Perempuan Neng Dara Affiah, Pakar Pendidikan Henny Supolo, Pegiat Media Sosial Denny Siregar dan Pendiri Partai Amanat Nasional Abdillah Toha



Sumber: BeritaSatu.com