PSI: Buang-Buang Suara Jika Pilih Kembali DPR Suka Bolos, Korupsi, dan Bungkam atas Toleransi

PSI: Buang-Buang Suara Jika Pilih Kembali DPR Suka Bolos, Korupsi, dan Bungkam atas Toleransi
Ilustrasi anggota DPR yang malas mengikuti sidang paripurna. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / WM Kamis, 11 April 2019 | 22:26 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie menyatakan, PSI sudah mencoba menawarkan sebuah debat politik yang sehat dengan menggugat posisi partai nasionalis. Namun, sayangnya, kata Grace, tidak ada tanggapan atas pertanyaan PSI tentang alasan mengapa partai nasionalis masih ada kadernya terlibat korupsi dan diam diam melihat intoleransi.

"Sayang tidak ada tanggapan atas pertanyaan kita, tetapi justru dibalas oleh berbagai hoax, yang intinya menyebut bahwa memilih PSI adalah buang-buang suara," ujar Grace dalam pidatonya di hadapan 2.500 pengurus, kader, dan simpatisan PSI pada acara Festival 11 di Jakarta Internasional Expo Kemayoran, Jakarta (11/4/2019).

Grace menegaskan, yang namanya buang-buang suara adalah memilih mereka yang selama ini sudah terbukti suka bolos di DPR, yang masih korupsi, yang bungkam melihat intoleransi dan diskriminasi di depan mata. Memilih mereka kembali, itulah yang sebenarnya buang-buang suara.

“Memilih kembali mereka yang selama ini sudah terbukti suka bolos di DPR, yang masih korupsi, yang bungkam melihat intoleransi dan diskriminasi di depan mata, itulah yang sebenarnya buang-buang suara,” ujar Grace Natalie.

Lebih lanjut, menurut Grace, ada juga hoax bahwa sistem Sainte Lague akan membuat suara PSI hangus. Padahal kenyataannya, sistem ini justru menguntungkan partai baru seperti PSI karena efektif mengkonversi dukungan menjadi satu kursi parlemen.

“Padahal kenyataannya, sistem ini justru menguntungkan partai baru seperti PSI karena efektif mengkonversi dukungan menjadi satu kursi parlemen,” jelas Grace yang juga Caleg DPR RI Dapil DKI 3 ini (Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu) .

Hadir dalam acara festival 11 itu Sekjen PSI Raja Juli Antoni, jajaran pengurus DPP PSI dan para juru bicara PSI, Pakar Komunikasi Ade Armando, Aktivis Perempuan Neng Dara Affiah, Pakar Pendidikan Henny Supolo, Pegiat Media Sosial Denny Siregar dan Pendiri Partai Amanat Nasional Abdillah Toha.



Sumber: BeritaSatu.com