Ini Plus-Minus Pilih Paket Paslon-Parpol

Ini Plus-Minus Pilih Paket Paslon-Parpol
Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini. ( Foto: istimewa )
Yustinus Paat / FMB Jumat, 12 April 2019 | 10:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggrani mengungkapkan plus-minus memilih paket pasangan calon presiden-wakil presiden dengan parpol pengusungnya. Menurut Titi, dalam konteks sistem presidensial, seharusnya presiden didukung oleh koalisi yang kuat di parlemen.

"Karena itu, keuntungan dari pilih paket paslon-parpol akan memperkuat sistem presidensial, di mana presiden akan dipilih oleh koalisi parlemen yang kuat," ujar Titi di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Ketika koalisinya kuat, kata Titi, akan memudahkan presiden-wakil presiden terpilih untuk menjalankan kebijakan dan agenda-agenda politiknya sehingga memudahkan pelayan kepada publik. Pasalnya, peran DPR untuk meloloskan agenda pemerintah sangat signifikan.

"Fungsi DPR kan fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Nah, untuk memastikan agenda pemerintah mendapat dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai, maka diperlu peran DPR," tandas dia.

Namun, Titi mengakui bahwa kelemahan jika koalisi terlalu kuat dan dominan di parlemen adalah fungsi kontrol yang lemah. Hal ini akan membuka ruang terjadinya persengkongkolan antara legislatif dan eksekutif demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.

"Padahal, salah satu fungsi DPR adalah pengawasan. Jika kekuasaan tidak diawasi maka akan ada kecenderungan korup dan bertindak semena-mena dan ini menjadi kelemahan pilih paket paslon-parpol," terang dia.

Lebih lanjut, Titi mengatakan, dengan sistem proporsional terbuka dengan caleg yang banyak, sangat memungkinkan pemilih untuk tidak memilih paket paslon-parpol. Pemilih, kata dia, bisa memilih paslon yang baik, berkualitas dan berintegritas dengan memilih caleg yang berintegritas dan berkualitas meskipun berbeda parpol dengan pengusung paslon.

"Apalagi kalau caleg lebih terkait dapil untuk menyuarakan persoalan-persoalan di dapil. Nanti, di parlemen caleg tersebut bisa menjadi oposisi yang berkualitas dan berintegritas," pungkas Titi. 



Sumber: BeritaSatu.com