Survei LSI: Jokowi-Ma'ruf di Ambang Menang Telak

Survei LSI: Jokowi-Ma'ruf di Ambang Menang Telak
Sebanyak 40 orang warga Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar) berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta. Para pejalan kaki ini ingin menghadiri kampanye terakhir Jokowi-Amin di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (13/4/2019). ( Foto: Istimewa )
Yuliantino Situmorang / YS Jumat, 12 April 2019 | 15:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pasangan Nomor Urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin di ambang menang telak dengan selisih dukungan terhadap pesaingnya, Prabowo Subianto-?Sandiaga Uno, di atas dua digit. Lima hari menjelang pencoblosan, dukungan Jokowi-Ma'ruf dalam rentang 55,9% hingga 65,8%. Sementara Prabowo-Sandi memperoleh dukungan dalam rentang 34,2% sampai 44,1%.

“Artinya, jika elektabilitas Jokowi-Ma'ruf menggunakan batas bawah elektabilitas saat ini, 55,9%, dan Prabowo-Sandi menggunakan batas atas 44,1%, Jokowi-Ma'ruf diproyeksikan tetap menang telak dengan selisih di atas dua digit,” ujar peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa saat memaparkan hasil survei lembaganya di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu Jumat siang disebutkan, survei dilakukan pada 4-9 April 2019 dengan menggunakan 2.000 responden di 34 provinsi di Indonesia lewat metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Margin of error survei ini 2,2%.

Selain survei, kata Ardian, pihaknya juga melakukan riset kualitatif dengan metode FGD, analisis media, dan wawancara mendalam untuk memperkaya analisa survei. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA.

Ardian mengatakan, tampilan angka elektabilitas masing-masing capres dibuat dalam bentuk range elektabilitas, karena LSI telah memperhitungkan angka elektabilitas masing-masing capres dengan margin of error survei dan asumsi golput yang terjadi secara proporsional. Kalkulasi dilakukan karena pilpres tinggal lima hari lagi.

“Jadi, diperlukan proyeksi elektabilitas dengan mempertimbangkan angka margin of error survei dan asumsi golput,” ujar dia.

Ia memaparkan, keunggulan Jokowi-Maruf di atas dua digit atas Prabowo-Sandi konsisten sejak Agustus 2018. Sejak pendaftaran capres, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 52,2 %, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi 29,5 %. Selisih di atas dua digit ini selalu stabil di periode-periode survei LSI Denny JA selanjutnya hingga survei teranyar April 2019.

Selisih elektabilitas yang stabil ini menguatkan kesimpulan bahwa Jokowi?-Ma'ruf berpotensi menang telak dari pasangan Prabowo-Sandi.

Ia menambahkan, survei terkini menunjukan, keunggulan Jokowi-Ma'ruf di pemilih Muslim pun masih terjaga. Saat ini, Jokowi-Ma'ruf memperoleh dukungan di pemilih Muslim sebesar 54,9% - 64,8 %, sementara Prabowo-Sandi 35,2% - 45,1%. Jika dukungan Jokowi-Maruf di pemilih Muslim menggunakan batas bawah yaitu 54,9 %, sedangkan dukungan Prabowo-Sandi di pemilih Muslim menggunakan batas atas 45,1 %, maka pasangan Jokowi-Maruf tetap unggul di pemilih Muslim dengan keunggulan sebesar 9,8%.

Menurut Ardian, ada lima faktor yang membuat Jokowi-Ma'ruf berpotensi menang telak. Pertama, mayoritas publik puas dengan kinerja Jokowi selama lima tahun menjabat. Hasil survei menunjukan, mereka yang puas terhadap kinerja Jokowi sebesar 69,5%, yang tidak puas sebesar 25,6%.

“Faktor kepuasaan terhadap kinerja menjadi kekuatan utama Jokowi-Ma'ruf,” tambahnya.

Faktor kedua, mayoritas publik suka dan puas dengan program-program sukses Jokowi yang popular.

Ketiga, Jokowi-Maruf punya dukungan telak dari tiga segmen utama yaitu pemilih minoritas, pemilih wong cilik, dan pemilih Muslim.

Keempat, figur dan personal Jokowi lebih disukai dibandingkan dengan Prabowo.

Serta faktor kelima, ada sejumlah faktor lainnya yang diamati secara kualitatif yang membuat Jokowi lebih kuat dibanding Prabowo. Faktor-faktor itu antara lain, citra temperamental Prabowo yang semakin sering terlihat dan viral ke publik, persepsi Jokowi yang lebih unggul debat dibandingkan Prabowo, dan kekhawatiran publik terhadap ekslusivisme Prabowo-Sandi yang terlihat dalam kampanye seperti yang dikritik SBY.



Sumber: PR