Surat Terbuka Rizal Ramli: Pembangunan Berkeadilan untuk Kemakmuran dan Kejayaan Indonesia

Surat Terbuka Rizal Ramli: Pembangunan Berkeadilan untuk Kemakmuran dan Kejayaan Indonesia
Rizal Ramli ( Foto: Suara Pembaruan / Stefy Thenu )
Asni Ovier / AO Jumat, 12 April 2019 | 15:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom senior Rizal Ramli menulis surat terbuka terkait kondisi Indonesia dan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Di dalam surat terbuka itu, Rizal Ramli yang pernah menjadi Menko Perekomian di era pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menyebutkan agar perekonomian Indonesia jangan lagi business as usual.

Menurut Rizal Ramli, stagnansi atau kemandegan perekonomian di Indonesia harus segera dihentikan. Rizal pun menyinggung kerja calon presiden petahana, Joko Widodo (Jokowi). Dikatakan, banyak rakyat yang ingin perubahan karena mereka ingin kehidupan yang lebih baik.

Berikut surat terbuka Rizal Ramli yang ditulis di Surabaya, Jumat (12/4/2019):

“Pembangunan Berkeadilan untuk Kemakmuran dan Kejayaan Indonesia”
DR Rizal Ramli

“Kita tidak mau lagi sekedar ‘Business As Usual”, kita tidak mau lagi ekonomi Indonesia terus mandeg di 5%, kita tidak mau lagi daya beli rakyat merosot, tidak mau lagi rakyat kita susah mencari pekerjaan, kita tidak mau lagi kebijakan ekonomi tidak adil, yang hanya menguntungkan yang kuat dan asing saja”.

“Kita tidak mau lagi yang dibangun hanya infrastruktur tanpa planning yang benar, sehingga meninggalkan trauma 3-O (over supplies, over-price dan over- borrowing).

“Kita tidak mau lagi resiko makro-ekonomi Indonesia terus meningkat karena tambahan utang ugal-ugalan dan bunga/yield sekitar 7.9% termasuk tertinggi di kawasan. Neraca perdagangan terburuk (-$8,6 milyar, 2018) dan Current Account Defisit (-$ 9,1 millar atau 3,57% GDP, Q4, 2018. CAD 2018: - $ 31,1 milyar atau 2,98% GDP) terparah di Asia Tenggara. Sehingga ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap berbagai gejolak external.

“Cukup sudah dengan stagnasi dan kemandegan ini”. “Enough is enough !!”

Hi, Petahana, apa yang anda kerjakan selama ini?
Katanya “Kerja, Kerja, Kerja”, kok hasilnya memble begini? Jangan-jangan hanya kerja tanpa strategi, kerja tanpa kepiawaian, kerja tanpa manfaat yang besar untuk rakyat Indonesia?

“Itulah mengapa rakyat Indonesia bergemuruh inginkan Perubahan. Agar hidup rakyat lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera. Kami ingin pembangunan yang lebih berkeadilan, lebih inklusif dan lebih memakmurkan.”

“Untuk itu, Pemerintahan Prabowo-Sandi berencana melakukan:
1. Pertumbuhan Ekonomi rata-rata 8% tahun 2020-2024. Dengan cara-cara terobosan yang inovatif, bukan cara “business as usual”. Dengan kebijakan makro-ekonomi yang lebih stimulatif tetapi semakin prudent”.

2. Memompa daya beli rakyat golongan bawah, tanpa kartu-kartu “lolypop”, dengan kebijakan pro-rakyat: Dalam 100 hari menurunkan tarif listrik 900VA dan 450 VA, menurunkan harga pangan, menaikkan gaji PNS lebih tinggi dari inflasi (Pemerintah Gus Dur, Menkonya RR & Pak Kwik, naikkan gaji PNS 125% dalam 21 bulan). Ini menaikkan 5% saja sudah bangga setengah mati, padahal inflasi total 4 tahun terakhir 13%. Jadi PNS justru rugi -8%, itupun sebagian besar belum dibayarkan. Dengan langkah-langkah Prabowo itu, daya beli rakyat akan meningkat, serta membangkitkan kembali sektor ritel yang saat ini sangat lesu.

3. Membangun 1 Juta Perumahan Untuk Rakyat dan membangkitkan sektor real estate. Dengan langkah ini akan tercipta tambahan 3,5 juta lapangan kerja, langsung maupun tidak langsung, dan tambah pertumbuhan ekonomi 1,5 % per tahun. RR dan Kwik Kian Gie pernah naikkan pertumbuhan ekonomi dari -3% menjadi +4,5% dalam 21 bulan, dengan utang yang berkurang melalui “innovative debt management” seperti debt swap, debt-to-nature swap dll.

4. Mencapai Kedaulatan Pangan, Kedaulatan Keuangan, Kedaulatan Energi dan Air Untuk Rakyat se-maksimum mungkin, dan dengan all-out, bukan “business as usual”.

5. Mengubah strategi menarik investasi. Pihak Petahana membujuk, mengemis untuk menarik Investor Asing. Hasilnya ala kadarnya. Siapa yg mau datang? Wong pertumbuhan ekonominya mandeg sekitar 5%. Mending mereka ke India (7,1%), Vietnam (7,1%) bahkan Filipina (6,2%), bahkan Bangladesh (7,7%). Pemerintahan Prabowo-Sandi akan ganti strategi, genjot dulu pertumbuhan ekonomi 8%, tidak perlu ngemis sini ngemis sana, yang tidak datang, akan merugi sendiri.

6. Empat setengah tahun terakhir, terjadi percepatan deindustrialisasi (accelerated de-industrialization). Pertumbuhan industry pegolahan tahun 2018 hanya tumbuh 4,3%, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi 5%. Tidak aneh pekerjaan susah dan upah mandeg. Itu terjadi karena kebijakan impor ugal-ugalan, export strategy yang tidak agresif, dan paket 16 kebijakan yg tidak effektif. Prabowo-Sandi akan percepat Industrialisasi dengan strategi yang jelas untuk meningkatkan daya saing produksi Indonesia.

7. Khusus untuk mencapai kedaulatan pangan, Prabowo-Sandi akan mengubah sistem kartel-cum-quota impor, yang merupakan sumber korupsi besar, menjadi sistem tarif yang juga berfungsi melindungi petani kita. Prabowo Sandi akan membangun 1 juta sawah padi baru, 1 juta kebun Jagung baru, dan 0,5 juta ladang tebu baru, reforestrasi jutaan Ha. Tapi yang paling penting, Prabowo-Sandi berkomitmen untuk laksanakan “Kebijakan Pro-Tani” sehingga petani menjadi untung dan makmur, melalui “Pendapatan Petani naik 2 kali lipat dalam 5 tahun.” dengan penetapan harga dasar untuk 3 komoditi penting.

8. Prabowo-Sandi akan mengubah demokrasi kriminal menjadi demokrasi yang amanah dan accountable melalui reformasi pembiayan partai politik. Membenahi Hukum, sehingga kebocoran anggaran sebesar Rp 2000 Trilliun (dari pengeluaran dan potensi penerimaan. KPK) bisa dihapuskan dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Amin
Semoga Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
Surabaya, Kota Perjuangan,
12 April 2019



Sumber: BeritaSatu.com