Yenny Wahid: Aksara Arab Pegon sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Politik Identitas

Yenny Wahid: Aksara Arab Pegon sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Politik Identitas
Koordinator Rumah Pergerakan Gus Dur (RPGD) Yenny Wahid di sela kegiatan Konser Putih BerSatu di Stadion GBK Jakarta, Sabtu (13/4). ( Foto: Ist )
Yustinus Paat / FMB Sabtu, 13 April 2019 | 15:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penggunaan huruf Arab pegon bertuliskan ”Tetap Jokowi” pada ikat kepala maupun kaus selama masa kampanye, bukan merupakan simbol dari politik aliran.

"Huruf pegon justru dipakai sebagai perlawanan terhadap penggunaan aksara Arab yang selama ini dianggap simbol politik aliran atau politik identitas,” kata Yenny Wahid, Koordinator Rumah Pergerakan Gus Dur (RPGD) di sela kegiatan Konser Putih BerSatu di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Yenny menyatakan hal itu untuk merespons pertanyaan seputar penggunaan huruf Arab pegon pada ikat kepala dan kaos yang, selama masa kampanye Pilpres 2019, sering dipakai oleh relawan RPGD, termasuk Yenny Wahid sendiri, yang kerap tampil berkaos atau berjaket dengan ciri desain bertuliskan Arab pegon.

”Ada kesengajaan dari pihak-pihak tertentu yang menggunakan aksara Arab untuk memecah belah bangsa, bukan mempersatukan seperti asalnya. Atribut bertuliskan huruf Arab yang dibawa massa dipakai sebagai penunjuk politik aliran. Bahkan, persaingan kedua calon presiden pun dinilai dari identitas keislamannya,” urai Yenny.

Padahal, dalam sejarahnya, huruf atau aksara Arab adalah salah satu dari ribuan aksara dari berbagai bangsa di dunia yang, oleh bangsa Arab digunakan tidak hanya untuk kepentingan agama, tetapi juga keperluan ekonomi, politik, dan urusan kehidupan lainnya.

Istilah Arab pegon itu sendiri, kata Yenny, berawal dari modifikasi huruf Arab untuk menuliskan bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Sunda, serta bahasa daerah lainnya. Tulisan ini berkembang setelah Islam menjadi agama mayoritas rakyat Nusantara.

"Sebelumnya, suku-suku bangsa di kepulauan Nusantara menggunakan aksara Pallawa dari bahasa Sansekerta yang berasal dari India Selatan," ujar putri Presiden ketiga RI, KH Abdurrahman Wahid ini.

Diakui Yenny, penggunaan ikat kepala dan kaus ”Tetap Jokowi” dalam huruf Arab pegon, memang upaya untuk mengingatkan kembali pada sejarah yang hilang. ”Sejarah ketika banyak suku bangsa di Indonesia menggunakan huruf Arab untuk menuliskan bahasa daerahnya bagi keperluan sehari-hari. Masa sebelum huruf Latin diperkenalkan oleh penjajah Belanda seperti yang dipakai sampai sekarang," tuturnya.

Pada masanya, lanjut Yenny, huruf Arab pegon sempat dipakai meluas di kalangan pesantren, untuk menulis terjemahan Alquran, menulis naskah-naskah khutbah, hingga menulis adaptasi karya-karya sastra dari Persia, Arab maupun negara-negara Timur Tengah lainnya.

"Meskipun kegiatan literasi masih hidup di pesantren-pesantren, namun huruf Arab pegon sudah semakin jarang digunakan. Ini yang kemudian mengilhami teman-teman relawan RPGD untuk memakai Arab pegon, sekaligus sebagai kritik terhadap penggunaan aksara Arab yang keliru dan salah kaprah," tegas Yenny.

Dalam pemaknaan yang lebih luas, menurut Yenny, penggunaan Arab pegon dalam konteks kekinian tidak lepas dari upaya melestarikan kekayaan budaya Nusantara. "Kita dituntut sigap mengantisipasi perubahan cepat yang muncul sebagai dampak Revolusi Industri 4.0. Namun, kita tetap tidak boleh menangggalkan kearifan lokal, bahkan hingga ke tingkat penggunaan Arab pegon," ujarnya.

Yenny berpendapat, esensi dari Revolusi Industri 4.0 bukan sekadar revolusi teknologi. Tetapi juga revolusi budaya. Revolusi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. ”Revolusi yang membawa nilai dan norma baru dalam kehidupan sehari-hari, namun tetap memberi ruang bagi setiap upaya menjaga warisan budaya," katanya.

Sementara itu, Kader RPGD Abdullah Nur mengatakan, penggunaan Arab Pegon bertuliskan 'Tetap Jokowi' membuat pesta demokrasi semakin berwarna. Menurutnya, penggunaan tulisan ini tak ada kaitannya dengan politik identitas. Sebab, selain tulisan Arab bisa dikreasikan sedemikian estestik, maka penggunaan pegon 'Tetap Jokowi' menarik minat masyarakat untuk membeli.

"Setelah pegon 'Tetap Jokowi' dipakai Mbak Yenny, banyak warga yang mau beli. Ada juga yang menjiplak, bikin sendiri-sendiri," ucapnya di Komplek GBK.

Senada dengan Nur, Muhlisin yang juga kader RPGD menuturkan, penggunaan huruf pegon itu membuat masyarakat 'pecinta' Gus Dur semakin bersemangat mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf. Menurutnya, huruf Arab Pegon bisa disebut sebagai pembeda dari organisasi relawan pendukung Jokowi-Ma'ruf lainnya.

"Kalo relawan lain kan mungkin ada cara sendiri untuk mereflesikan dukungan mereka. Mereka pasti kreatif-kreatif. Nah kita pilih huruf pegon ini," ucap dia di lokasi yang sama.

RPGD sendiri mengerahkan 50.000 kader dan anggota ke Konser Putih Jokowi-Ma'ruf. Konser Putih sekaligus menjadi puncak kampanye akbar di Zona DKI Jakarta untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf dan tim serta relawan pendukung.



Sumber: BeritaSatu.com