KPU Tidak Dapat Akses dari Polisi Malaysia ke Tempat Suara Tercoblos

KPU Tidak Dapat Akses dari Polisi Malaysia ke Tempat Suara Tercoblos
Puluhan kantong plastik dengan suarat suara pemilu 2019 yang diduga sudah tercoblos di Selangor, Malaysia. ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / MPA Sabtu, 13 April 2019 | 19:14 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Komisioner Komisi Pemilihan Umum atau KPU, Ilham Saputra mengaku pihaknya masih kesulitan mengakses ke tempat surat suara tercoblos di Selangor, Malaysia. Hal ini membuat KPU kesulitan memastikan apakah surat suara yang tercoblos merupakan surat suara resmi dari KPU.

"Kami tidak dapat akses. Padahal kalau kami dapat akses kami bisa memastikan untuk mendapatkan," ujar Ilham saat dijumpai di arena debat capres di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4/2019).

Ilham merupakan salah satu Komisioner KPU yang berangkat ke Malaysia untuk melakukan pengecekan terhadat surat suara tersebut. Namun, dia dan tim KPU serta Bawaslu tidak bisa memeriksa langsung surat suara yang tercoblos karena lokasinya sudah ada police line.

Ilham mengatakan KPU sebenarnya bisa memastikan surat suara tercoblos tersebut jika diberi akses oleh pihak Polis Diraja Malaysia (PDRM).

"Kami punya alat untuk bisa memastikan surat suara itu benar diproduksi oleh KPU atau bukan. Tapi kami tidak mendapatkan akses," tandas dia.

KPU, menurut Ilham, sudah meminta kepada Polis Diraja Malaysia (PDRM) untuk diberi akses, namun akses tidak diberikan. Pasalnya, polisi Malaysia megatakan kasusnya masih dalam tahap penyelidikan mereka.

"Namun, kami juga sudah melakukan wawancara kepada para penyelenggara pemilu di sana, dan prinsipnya kami nanti masih akan putuskan. Kami akan bersinergi dengan Bawaslu, dan kami akan pleno internal dulu di KPU," pungkas dia.

Sebelumnya, Komisioner KPU, Pramono Ubaid Tanthowi, mengatakan surat suara yang sah tercoblos memiliki ketentuan tersendiri. Pramono juga mengungkapkan ciri-ciri surat suara yang asli dari KPU.

"Jadi, kalau surat suara tercoblos itu berarti harus ada tanda tangan dari Ketua Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS). Maka jika surat suara itu asli, ketika keluar sudah ada tanda tangan dari KPPS," jelas Pramono saat dijumpai di Kantor KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (12/4).

Menurut Pramono, KPU bisa memastikan surat suara asli atau tidak dari sejumlah spesifikasi, misalnya ketebalan, berat, kecerahan. Kemudian, ada spesifikasi khusus berupa mikroteks sebagai pengaman surat suara.

Sebelumnya, beredar video tentang penggerebekan lokasi tempat penyeludupan surat suara pos di sebuah ruko di kawasan Bangi, Selangor, Malaysia. Dalam video tersebut, disebutkan bahwa surat suara Pilpres sudah tercoblos untuk Pasangan Calon Presiden Nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf dan surat suara pileg untuk Partai Nasdem dengan caleg Nomor urut 3 dengan nama Achmad.

"Barang-barang sudah dicoblos di Malaysia Selangor. Sudah dicoblos 01, Partai Nasdem Nomor 5, calegnya Nomor urut 3 namanya Ahmad. Kami harap KPU Indonesia membatalkan semua urusan tentang DPL Malaysia dari hari ini sampai tanggal 14 (April). Kalau tidak kami akan duduki KBRI," ujar seorang pria dalam video tersebut sambil memperlihatkan surat suara yang sudah tercoblos.



Sumber: BeritaSatu.com