Erick Tohir: Ada yang Memutarbalikkan Program Jokowi

Erick Tohir: Ada yang Memutarbalikkan Program Jokowi
Erick Thohir (tengah) ( Foto: Istimewa )
Robertus Wardi / YS Sabtu, 13 April 2019 | 20:30 WIB

‎Jakarta, Beritasatu.com  - Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Pasangan Calon (Paslon) nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin, Erick Tohir‎, menilai ada yang ‎memutarbalikkan program Jokowi.

Program Jokowi yang sesungguhnya untuk rakyat banyak, malah dianggap hanya untuk elite-elite tertentu.

‎"Ini ada yang terbalik-terbalik. Program Jokowi yang sangat merakyat, tapi di lain pihak bilang elite-elite. Ini kebolak-balik. Saya bagian dari elite. Saya merasakan itu. Justru saya melihat, saya percaya program yang Pak Jokowi lakukan ini luar biasa, bagaimana langsung menyentuh rakyat," kata Erick sebelum menyaksikan debat terakhir di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019) malam.

Ia menjelaskan, contoh tunduhan itu seperti Jokowi dinilai antek asing. Padahal, Jokowi sudah berhasil merebut 51 persen saham PT Freeport. Kemudian kepemilikan PT Newmont juga sudah banyak dikuasai Indonesia. Belum lagi blok Mahakam yang puluhan tahun tidak dinikmati Indonesia. Saat ini, blok tersebut sudah dikuasai Pertamina.

"Beliau bukan tipe Asal Bapak Senang (ABS). Beliau kenapa blusukan? Karena ingin mengecek apa yang terjadi di lapangan. Bukan kebolak balik," tegas Erick.

Saat ditanya Jokowi gagal mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen seperti dijanjikan, Erick menjelaskan percuma pertumbuhan 7 persen jika hanya dinikmati oleh golongan tertentu atau hanya terbatas di Pulau Jawa saja.

Apa yang dilakukan Jokowi dalam empat setengah tahun terakhir adalah melakukan pemerataan pembangunan. Pembangunan tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Jawa tetapi menyebar ke seluruh Tanah Air.

"Kan yang lucu begini. Ketika Pak Jokowi itu lebih mementingkan banyak pihak, daerah terpencil, yang tidak dibangun hanya Jawa, ya itu risiko pasti pertumbuhan tidak tujuh persen tetapi lima persen. Tetapi pertumbuhan lima persen kan jauh lebih sehat dari tujuh persen, kalau tujuh persen hanya dapat orang-orang tertentu atau wilayah-wilayah tertentu saja. Ini kan tidak," ujar Erick.



Sumber: Suara Pembaruan