Jokowi Mendapat Sorban dari Mbah Moen dan Tasbih dari Habib Luthfi

Jokowi Mendapat Sorban dari Mbah Moen dan Tasbih dari Habib Luthfi
Pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Nomor urut 01 Joko Widodo (tengah) Ma'ruf Amin (kiri) didampingi Ketua dewan pengarah tim kampanye nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Jusuf Kalla (kanan) berorasi dihadapan para pendukung saat mengikuti Konser Putih Bersatu dalam rangka Kampanye Akbar Pasangan Capres no urut 01 di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu, 13 April 2019. ( Foto: Antara / Nova Wahyudi )
Fana Suparman / FMB Sabtu, 13 April 2019 | 21:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo sempat bertemu dan berbincang dengan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang Kiai Maimoen Zubair dan Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah, Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Hotel Fairmont Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Pertemuan itu dilakukan Jokowi sebelum menghadiri Kampanye Akbar Jokowi-Ma'ruf di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Dalam pertemuan itu, Mbah Moen, sapaan Maimoen Zubair memberikan kain sorban hijau miliknya, sementara Habib Luthfi bin Yahya memberikan tasbih.

"Tadi sebelum berangkat ke GBK, sepulang dari acara LDII, dan setelah vlog, Pak Jokowi bertemu khusus dengan dua kiai sepuh dan berpengaruh yaitu Habib Lutfi bin Yahya dan KH Maimoen. Kiai Maimoen memberikan beliau sorban hijau kemudian Habin Luthfi memberikan beliau tasbih yang ada permatanya," kata Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4).

Abdul Kadir yang juga Sekjen PKB menilai kedua benda yang diberikan dua ulama kharismatik tersebut kepada Jokowi memiliki makna mendalam. Abdul Karding menafsirkan, kain sorban sebagai simbol kedudukan, sementara tasbih memiliki makna untuk selalu mengingat Allah.

"Saya kira masing-masing ini ada maknanya. Kalau boleh saya menafsikran sorban hijau itu artinya semacam simbol kedudukan, simbol keislaman. Kalau tasbih itu selalu berdzikir, mengingat kepada Allah," ungkapnya.

Abdul Kadir menepis spekulasi yang menyebut pemberian tersebut untuk mengimbangi manuver capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang mendapat dukungan dari sejumlah ulama, seperti Ustaz Abdul Somad (UAS) Ustaz Adi Hidayat (UAH) dan Kiai Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym beberapa hari belakangan ini. Abdul Kadir menegaskan, pemberian tersebut dilakukan secara spontan. Pertemuan ini mulanya digelar lantaran Mbah Moen dan Habib Luthfi ingin mendoakan Jokowi meraih kemenangan di Pilpres 2019.

"Enggak, itu spontan. Niat awalnya cuma bertemu dan mendoakan Pak Jokowi agar di sisa waktu yang ada ini diberi petunjuk, jalan agar menang," ungkapnya.

Abdul Kadir menegaskan, dukungan yang diberikan sejumlah ulama, seperti UAS, UAH dan AA Gym merupakan pilihan masing-masing. Abdul Kadir mengakui, UAS memiliki pengaruh kuat di umat Islam. Namun, hal tersebut tak menjamin akan berjalan linear mendongkrak suara Prabowo. Apalagi, UAS dan AA Gym selama ini disaksikan sebagai pendukung Prabowo.

"Tentu UAS punya pengaruh tetapi tentu di politik itu agak sulit beda dengan di keagamaan. Kalau orang sudah memiliki kekuatan politik ya sudah, saya melihat kekuatannya UAS itu memang sejak awal sudah di 02. UAS dan AA Gym itu mungkin memang pendukung-pendukung di 02," katanya.

Hal senada dikatakan Wakil Ketua TKN lainnya, Asrul Sani. Dikatakan, dukungan yang diberikan UAS, UAH, AA Gym maupun sejumlah tokoh seperti mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo merupakan hak masing-masing pribadi. TKN, kata Asrul menghormati pilihan politik para tokoh tersebut. Namun, Asrul yang juga Sekjen PPP menilai dukungan tersebut tak berpengaruh signifikan. Hal ini lantaran, berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga, sebagian besar pemilih telah menentukan pilihannya.

"Kalau kita lihat. Memang tidak ada alat ukur yang pasti. Alat ukur yang ada saat ini kan survei. Survei itu kalau kita lihat dari September 2018, itu kan tidak banyak bergeser. Pergeseran itu bahkan di bawah 3 persen," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan