TKN: Tax Policy Sentuh Upaya Wujudkan Kedaulatan Ekonomi Indonesia

TKN: Tax Policy Sentuh Upaya Wujudkan Kedaulatan Ekonomi Indonesia
Hasto Kristyanto. ( Foto: Dok TKN )
Asni Ovier / AO Sabtu, 13 April 2019 | 22:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto megnatakan, ketika perdebatan politik ekonomi menyangkut instrumen perpajakan, publik semula mengira pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno akan tampil berbeda. Namun, kata Hasto Kristiyanto, faktanya hanya tax ratio yang menjadi kritik utama Prabowo-Sandi.

"Tax ratio hanyalah instrumen. Hulunya terletak pada pemahaman terhadap filsafat pokok ekonomi itu. Pak Jokowi memahami bahwa politik ekonomi mengabdi pada tujuan bernegara. Pajak menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena itu, fokusnya bukan hanya pada tax ratio, namun pada sistem, komitmen, dan kepemimpinan. Pak Jokowi telah melakukan hal tersebut dengan tax amnesty, memperluas wajib pajak, serta mengintensifikasi melalui sistem teknologi informasi yang terpercaya, memudahkan, dan mengedepankan transparansi perpajakan," ujar Hasto Kristiyanto di Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Hasto mengatakan, keberhasilan tax policy pemerintah Presiden Jokowi terlihat dari peningkatan daya terima perpajakan, sehingga keseimbangan primer dalam APBN tidak lagi negatif. Kedaulatan ekonomi, ujar Hasto, justru dijalankan melalui kebijakan pajak yang prudent, mencegah shock economy, dan secara gradual tumbuh secara sistemik dan semakin besar.

“Apalagi, dari aspek makro, nilai tukar yang stabil, inflasi rendah, dan kemudahan bisnis semakin membaik seiring dengan perombakan menyeluruh terhadap hambatan investasi," ujar Hasto Kristiyanto yang juga Sekretaris Jenderal DPP PDIP.

Hasto mengatakan, semakin terlihat bahwa Indonesia memerlukan pemimpin negarawan yang paham terhadap sistem nilai sekaligus memahami detil terhadap arah dan jalan kebijakan ekonomi untuk kemakmuran bangsa.

“Debat pun akhirnya membuka orientasi pemimpin. Pemimpin lama menggambarkan pesimisme dan pemimpin visioner memahami masa depan, namun berpijak pada kenyataan," kata Hasto Kristiyanto.



Sumber: BeritaSatu.com