Boni Hargens: Pidato AHY di Surabaya Bentuk Dukungan ke Jokowi

Boni Hargens: Pidato AHY di Surabaya Bentuk Dukungan ke Jokowi
Agus Harimurti Yudhoyono-AHY-Partai Demokrat. ( Foto: ANTARA. / Saiful Bahri )
Yustinus Paat / WBP Minggu, 14 April 2019 | 11:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat politik Boni Hargens menilai pidato kebangsaan Partai Demokrat yang disampaikan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Surabaya Jawa Timur, Sabtu (13/4/2019) adalah terobosan besar yang tidak hanya menguntungkan partai Demokrat, tetapi juga untuk kepentingan bangsa. Pidato AHY adalah bentuk dukungan konkret terhadap Joko Widodo-Maruf Amin.

Menurut Boni, dalam pidato berjudul "Indonesia untuk Semua” itu, AHY tampil cerdas mengkritisi praktik kampanye Pilpres 2019 yang didominasi politik identitas. "Narasi yang memecah-belah persatuan karena penonjolan identitas agama secara berlebihan oleh kelompok politik tertentu merupakan ancaman bagi masa depan Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. AHY tampil cerdas dalam pidato di Surabaya dengan mengkritisi politik identitas," ujar Boni Hargens di Jakarta, Sabtu (13/4).

Menurut Boni Hargens, ada dua hal dalam pidato AHY tersebut. Pertama, AHY adalah masa depan Demokrat. SBY sukses melakukan regenerasi politik meski itu adalah keluarganya sendiri. "AHY mampu menampilkan dirinya sebagai anak muda yang cerdas dan visioner," ungkap Boni Hargens.

Kedua, kata Boni, pidato AHY narasi politik yang sudah dibangun Joko Widodo (Jokowi) sejak 2014. "Dalam bulan-bulan terakhir menjelang Pilpres 17 April 2019, narasi kebangsaan itu semaki kencang dikumandangkan Jokowi dan para pendukungnya. Itu sebabnya, saya menilai pidato AHY di Surabaya adalah bentuk dukungan langsung dan konkret dari AHY dan partai Demokrat terhadap Jokowi-Maruf," tandas Boni Hargens.

Penilaian tersebut, menurut Boni Hargens, berangkat dari preseden sebelumnya yaitu kritik SBY terhadap kampanye akbar Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. SBY menilai kampanye Prabowo terlalu eksklusif karena menonjolkan secara berlebihan simbol identitas.

Boni Hargens mengaku peserta yang hadir dalam kampanye Prabowo itu kebanyakan massa PKS dan bekas Hizbut Thahir Indonesia (HTI) yang selama ini berteriak tentang khilafah.

"Jika Demokrat tetap menjaga konsistensi prinsip politiknya yang nasionalis, saya yakin partai ini suatu waktu akan mengalami kebangkitan kembali atau re-awakening," pungkas Boni Hargens.



Sumber: BeritaSatu.com