Pemilu Susulan di Sydney Tunggu Rekomendasi Bawaslu

Pemilu Susulan di Sydney Tunggu Rekomendasi Bawaslu
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arif Budiman (tiga kiri), didampingi lima Komisioner KPU (kiri ke kanan), Hasyim Asy’ari, Pramono Ubaid, Ilham Saputra, Wahyu Setiawan, dan Evi Novida Ginting Manik. ( Foto: Beritasatu Photo / SP/Joanito De Saojoao. )
Aichi Halik / AHL Senin, 15 April 2019 | 16:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih menunggu rekomendasi resmi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terkait adanya desakan pemungutan suara susulan di Sydney, Australia.

Komisioner KPU Ilham Saputra mengatakan, rekomendasi Bawaslu akan menjadi dasar putusan diadakannya pemilu susulan atau tidak.

"Terkait permintaan pemungutan suara susulan, kami harus menunggu rekomendasi resmi dari Bawaslu. Penyelenggara Pemilu di Sydney itu kan ada PPLN, Panwas sana," ujar Ilham di kantor KPU, Jakarta Pusat, Senin (15/4/2019).

Ilham mengatakan, jika Panwaslu menganggap dan menemukan adanya pelanggaran dalam proses pemungutan suara, Panwaslu dapat memberikan rekomendasi pemungutan suara susulan bagi KPU.

"Kalau Panwas sana menganggap bahwa memang ada pelanggaran atau ada hal yang memang harus direkomendasi untuk pemungutan suara susulan, maka kita harus menjalankan," kata Ilham.

Terkait kasus Sydney, kata Ilham, pihaknya masih menunggu laporan resmi dari PPLN.

"Sydney kita masih menunggu laporan resmi dari PPLN sana bagaimana kejadian yang sebenarnya. Karena sekarang seakan-akan semua salah PPLN, kita akan minta informasi resmi," ucap Ilham.

Sebelumnya diberitakan, puluhan ribu WNI sudah meneken petisi meminta pemungutan suara susulan di Sydney. Petisi itu menyebutkan, dalam pemilu 13 April 2019 yang digelar di Sydney, ratusan warga Indonesia yang mempunyai hak pilih tidak diizinkan melakukan apa yang jadi hak mereka meski telah antre panjang.

Warga Indonesia disebut tidak dapat memilih karena proses yang panjang dan ketidakmampuan PPLN Sydney sehingga menyebabkan antrean tidak berakhir sampai pukul 6 sore waktu setempat.

PPLN juga disebut sengaja menutup TPS tepat pukul 6 sore, tanpa menghiraukan pemilih yang telah lama antre.



Sumber: BeritaSatu TV