Memenangkan Pertarungan

Memenangkan Pertarungan
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berbincang sesaat, usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu 30 Maret 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao. )
Willy Masaharu / AO Senin, 15 April 2019 | 22:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tensi politik menjelang Pemilihan Presidn (Pilpres) 2019 memang sudah memanas sejak masa kampanye dimulai sekitar enam bulan lalu. Hingga kini, kurang dari dua hari menjelang hari pencoblosan pada Rabu (17/4/2019), bara api yang ada di antara dua kubu calo presiden (capres) tak kunjung padam.

Daerah-daerah yang dianggap sebagai lumbung suara terus digarap. Tak hanya Jawa Tengah (Jateng) yang dianggap sebagai battleground oleh dua paslon, yakni Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno. Dua pasangan juga terus berupaya merebut suara di daerah-daerah lain, khususnya di Jawa.

Pertarungan untuk merebut hati pemilih cukup berat, terlebih suara pemilih di wilayah
tersebut bisa menjadi penentu kemenangan baik untuk Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi. Berikut ini empat wilayah yang bakal menjadi “medan pertempuran” berat bagi kedua kubu baik capres:

1. Jawa Barat
Pemilih di Jawa Barat bisa menjadi salah satu penentu kemenangan dalam Pilpres 2019, karena jumlah penduduk Jabar terbesar di Indonesia. Ini membuat dua paslon Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga ramai-ramai merebut hati pemilih di Jabar.

Jika melihat peta politik Pilpres 2014, Jawa Barat merupakan lumbung suara Prabowo. Prabowo menang telak dari Jokowi dengan perolehan suara 14.167.381 atau 59,78%. Sedangkan, Jokowi hanya mendapatkan 9.530.315 suara atau 40,22%. Meski demikian, kubu Jokowi tak mau tinggal diam. Mereka menggerakkan semua mesin politik koalisinya dan relawan untuk bergerak memenangkan Jokowi-Ma'ruf. Salah satunya PDIP melakukan safari politik ke lima kabupaten di Jawa Barat.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, pihaknya mengusung misi agar Jabar tidak lagi menjadi lumbung suara Prabowo Subianto seperti 2014. “Sehingga, 'kandang' Pak Prabowo di Jawa Barat bergeser menjadi kandang Pak Jokowi dan Kiai Ma'ruf Amin. Itu yang kami pastikan," kata Hasto.

Lagi pula, di Jabar, Ketua Tim Kampanye Daerah Jabar Jokowi-Ma'ruf Amin, Dedi Mulyadi sudah teruji ketangguhannya menguasai wilayah. Kang Dedi, demikian dia akrab disapa, bukanlah orang sembarangan. Tokoh ini dianggap sangat mampu menaikkan elektabilitas paslon Jokowi-Ma'ruf Amin di lumbung-lumbung pemilih militan Prabowo.

Sementara, kubu Prabowo-Sandi tak khawatir suara pemilih beralih memilih Jokowi. Wakil Ketua BPD Prabowo-Sandi Jabar Abdul Hadi Wijaya, mengatakan koalisinya solid untuk memenangkan Prabowo. Terlebih masyarakat yang memilih golput pada Pilpres 2014 lalu tertarik mendukung Prabowo. "Yang golput itu sebagian besar yang kecewa dengan kondisi saat ini dan mulai mendukung Prabowo-Sandi," kata Hadi.

2. Jawa Tengah
Jawa Tengah juga menjadi daerah yang ditargetkan dapat meraup suara pemilih terbanyak untuk Jokowi dan Prabowo. Jika dilihat pada Pilpres 2014, suara Prabowo kalah telak dari Jokowi. Prabowo hanya memperoleh 6.485.720 suara atau 33,35%, sedangkan Jokowi menang dengan 12.959.540 suara atau 66,65%.

Walau Prabowo tahu jika Jateng menjadi “kandang banteng” atau dengan kata lain lumbung suara Jokowi, tak membuat mereka takut. Kubu Prabowo sampai mendirikan kantor pusat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga, di Jalan Letjen Suprapto 53 A, Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, Ferry Juliantono mengatakan, Jawa Tengah saat ini bukan kandang banteng atau basis masa PDIP lagi. Hal tersebut terbukti saat pelaksanaan Pilgub Jateng beberapa waktu lalu, pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah perolehan suaranya tidak berselisih jauh dengan Ganjar-Yasin.

Sementara itu, kubu Jokowi sama sekali tidak terusik dengan lawan berkampanye di Jateng. "Sangat yakin. Banteng tak kenal menyerah. Itu sebabnya ada slogan 'biar gepeng tetap Banteng'," kata Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno.

3. Jawa Timur
Jawa Timur (Jatim) menjadi wilayah terpenting di pulau Jawa. Jatim adalah salah satu wilayah yang memiliki penduduk terbanyak. Pilpres 2014 di Jatim dimenangkan oleh Jokowi. Prabowo-Hatta kala itu mendapatkan 10.277.088 suara atau 46,83%, sementara Jokowi-JK meraih 11.669.313 atau 53,17%.

Tim Prabowo ingin pada Pilpres 2019 nanti wilayah basis Jokowi itu direbut. Prabowo ingin menang di Jatim. Salah satu caranya adalah dengan merangkul para kiai dan ulama di Jatim. Peran kiai dan ulama di Jatim sangat vital. Akhir November 2018, sejumlah kiai dan ulama keturunan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) memberikan dukungan ke Prabowo-Sandiaga. Mereka datang ke kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara IV Jakarta dari Jawa Timur untuk mendeklarasikan dukungannya. Prabowo-Sandi berserta partai koalisinya juga aktif berkampanye ke Jawa Timur untuk meraih kemenangan dalam Pilpres 2019.

4. Sumatera Barat
Pilpres 2014 lalu, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla kalah telak dari pasangan Prabowo-Hatta di Sumatera Barat. Pasangan Jokowi-JK tercatat hanya meraup suara 539.308 atau 23,08%, dibandingkan Prabowo-Hatta 1.797.505 suara atau 76,93%. Kubu Jokowi-Ma'ruf Amin mulai bergerak untuk mendulang suara di Sumatera Barat. Calon Wakil Presiden Nomor 01 Ma'ruf Amin, memulai kunjungannya ke provinsi Sumatera Barat pada Kamis 7 Februari.

Kiai Ma'ruf menegaskan, kehadirannya ke Sumbar, tentu ingin mendulang suara. Di mana pada Pilpres 2014 lalu, Jokowi kalah di “Markas Prabowo”. Dia meyakini, bahwa kondisi di Sumbar sekarang berbeda dengan Pilpres 2014 lalu.

"Tentu kita ingin meraih suara yang besar. Pokoknya bisa menanglah di Sumatera Barat. Menangnya berapa itu soal lain. Lebih besar lebih bagus. Targetnya menang di Sumatera Barat, yang dulu Pak Jokowi memang kalah. Tapi hari ini sudah berubah. Karena itu 2019 ini, Jokowi-Ma'ruf Amin harus menang," ucap Ma'ruf di BIM, Padang Pariaman, Sumbar, Kamis (7/2/2019).



Sumber: Suara Pembaruan