Ini Titik Lemah Pandangan Prabowo-Sandiaga Soal Infrastruktur

Ini Titik Lemah Pandangan Prabowo-Sandiaga Soal Infrastruktur
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. ( Foto: Antara )
Hendro D Situmorang / AMA Selasa, 16 April 2019 | 11:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno terkait ekonomi dinilai para ahli ekonomi amburadul. Premis-premis yang dilontarkan pasangan capres-cawapres nomor urut 02 itu saat debat terakhir pilpres, terutama dalam menanggapi berbagai kebijakan pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla dalam 4,5 tahun terakhir, sungguh bingung untuk dimengerti.

Hal itu dinyatakan ekonom, Poltak Hotradeo dalam siara pers yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Selasa (16/4/2019). "Ingin rasanya saya bicara langsung di depan mereka, dan bilang bahwa tidak ada ekonomi negara akan baik, jika tidak ditunjang infrastruktur yang bagus. Prabowo menyatakan agar kita meniru Tiongkok yang bisa mengentaskan kemiskinan dalam 40 tahun. Cuma apakah Prabowo dan Sandiaga tahu bahwa untuk mengentaskan kemiskinan tersebut, Tingkok harus membangun 136 ribu km jalan tol! Apakah mereka tahu dan mengerti itu?" ungkapnya.

Poltak Hotradeo menambahkan, paslon 02 tersebut sering banyak mengkritik soal pembangunan infrastruktur seperti jalan tol di Pulau Jawa dan Sumatera, bahkan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Papua yang dinilai tidak penting ketimbang memberikan kesejahteraan rakyat atau swasembada beras.

"Tiongkok membangun tol pertama tahun 1984 dan itu hanya 17 km. Tapi hingga kini sudah 136 ribu km, serta memberikan dampak luar biasa bagi negara itu. Indonesia pertama kali bangun tol Jagorawi tahun 1978, namun setelah itu diam. Hanya di era Jokowi-JK dalam 4,5 tahun bisa bertambah Tol Jawa dan Tol Sumatera. Jika itu terwujud, akan terlihat dampak ekonomi dan pengentasan kemiskinan yang terjadi," tambah Poltak Hotradeo.

Poltak Hotradeo menilai, Indonesia sebagai negara besar membutuhkan infrastruktur di tahap awal untuk membangun sektor-sektor lainnya. Jika jalan tol di Indonesia sudah ada lebih dari 5.000 km, maka diyakini dampak yang muncul akan juga luar biasa. Dengan pembangunan infrastruktur fisik, maka infrastruktur sosial, yakni di bidang pendidikan, kesehatan, dll, juga akan mengalami peningkatan.



Sumber: Suara Pembaruan