Tak Hanya Aman dan Sejuk, Pileg dan Pilpres Harus Jujur dan Adil

Tak Hanya Aman dan Sejuk, Pileg dan Pilpres Harus Jujur dan Adil
Diskusi dan Doa Bersama untuk Pemilu Yang Jujur, Adil dan Damai Feat Sabyan Gambus, di Jakarta, Selasa (16/4). ( Foto: istimewa )
Carlos KY Paath / WM Selasa, 16 April 2019 | 21:26 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Pemilu Legislatif (Pileg) serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 harus berlangsung jujur dan adil. Tidak cukup hanya aman, damai, serta sejuk. Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali mengungkap, dirinya sempat heran dengan banyak spanduk di jalan yang hanya bertulis Pemilu damai, sejuk dan aman.

“Adil dan jujurnya tidak disebutkan. Saya fakta loh ini, lihat saja di jalan-jalan. Tolong dicatat, hari ini kita harus tambahkan kata adil dan jujur,” kata Effendi dalam acara Diskusi dan Doa Bersama untuk Pemilu Yang Jujur, Adil dan Damai Feat Sabyan Gambus, di Jakarta, Selasa (16/4/2019). Menurut Effendi, poin jujur merupakan keniscayaan dalam pesta demokrasi.

Jujur menjadi pangkal dalam konteks komunikasi politik terjadinya pemilu yang damai aman dan sejuk. Effendi menganologikan arti kejujuran layaknya pertandingan sepak bola. “Ada pemain lain melakukan pelanggaran lalu memasukkan bola, kita mau marah, lalu disuruh aman, damai. Itu bisa? jarang sepak bola seperti itu, kalah 8-0 tapi berakhir sejuk,” ucap Effendi.

Effendi menyatakan, salah satu ketidakjujuran yang utama dan terjadi saat ini adalah keberadaan lembaga survei. Lembaga-lembara survei, masih kata Effendi, selalu mengatakan pelaksanaan survei dibiayai sendiri. “Jika biaya sendiri, masak kerjaannya cuma menyerang pihak tertentu. Kalau Rocky Gerung bilangnya dungu, saya bilangnya gangguan kesehatan jiwa, agak ilmiah,” ujar Effendi.

Effendi menuturkan, terdapat empat hal penting untuk mencapai Pemilu yang adil dan dan damai. Pertama, salat subuh berjamaah dan dilanjutkan dengan mendaftar awal ke tempat pemungutan suara (TPS). Kedua, warga jangan takut jika melihat alat-alat berat atau alat-alat polisi di sekitar TPS. Ketiga, jangan pernah takut berbeda dengan lembaga survei.

“Mereka ingin mempengaruhi kita sebelum masuk TPS bahwa kita kalah. Pilihlah dengan hati dan jangan takut,” tegas Effendi. Keempat, warga perlu menunggu penghitungan suara hingga selesai. Minimal penghitungan suara Pilpres. Kegiatan tersebut turut dihadiri pakar hukum tata negara Irman Putra Sidin.

Irman mengatakan, demokrasi yang dibangun dari nilai-nilai agama pasti menghasillkan adil dan jujur. Hampir semua nilai-nilai konstitusi di dunia yang ada diambil dari agama. Biaya demokrasi akan sangat murah jika dibangun dengan nilai-nilai agama. Terkait Pilpres, Irman mengingatkan, pemilihan nanti bukan sedang mencari pemenang dari sebuah pertarungan kekuasaan.

Masyarakat akan memilih presiden yang akan bersumpah di hadapan Tuhan dan menjalankan kewajiban selurus-lurusnya. “Presiden kuasanya besar sekali, bisa membawa kemuliaan dan kezaliman. Salah pilih sedikit, kita yang tanggung jawab sebagai pemilih, dan ini bukan tanggung jawab duniawi semata,” kata Irman.

Sementara itu, Koordinator Nasional GMI, Tarisa Anindita Tutuko berharap agar para milenial mengawal pemilu yang jujur dan damai. “Intinya jangan mau kita dicurangi, tolong dijaga pokoknya jangan sampai ada kecurangan dan kita harus damai,” ucap Tarisa



Sumber: Suara Pembaruan