Elite Parpol Perlu Rekonsiliasi Kembali

Elite Parpol Perlu Rekonsiliasi Kembali
Dialog kebangsaan bertema "Memperteguh Semangat Kebangsaan dalam Bingkai NKRI" di Jakarta, Selasa (16/4/2019). ( Foto: istimewa / istimewa )
Yuliantino Situmorang / YS Selasa, 16 April 2019 | 21:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Cendekiawan Muslim Komarudin Hidayat berharap, pascapencoblosan 17 April 2019, para elite parpol, intelektual, hingga ulama dapat rekonsiliasi kembali.

Hal itu ia katakan dalam dialog kebangsaan dengan tema “Memperteguh Semangat Kebangsaan dalam Bingkai NKRI” di Jakarta, Selasa (16/4/2019).

Selain Komaruddin, dalam diskusi itu, hadir juga sebagai pembicara, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti.

“Prestasi keberhasilan pelaksanaan Pemilu di Indonesia harganya sangat mahal jika ada oknum tertentu yang hendak menguasai bangsa karena kepentingan politik tertentu. Siapapun yang menang, adalah putra terbaik bangsa,” tutur Komaruddin.

Ia menambahkan, setelah pencoblosan, terjadi rekonsiliasi dan mengakhiri perselisihan, apalagi momennya tepat yakni di bulan Ramadan.

“Kita puasa dan puncaknya Idul Fitri, kita kembali lagi seperti air dan air," tutur mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Komaruddin yakin, seluruh masyarakat dapat menyelesaikan perselisihan. Apalagi bangsa ini sudah terbiasa menghadapi turbulensi.

“Ribut-ribut wajar, mungkin kecewa, wajar,” tambah dia.

Menurut dia, Tuhan memiliki rencana lain di balik kisruhnya perdebatan di Pilpres 2019.

“Jadi, tolonglah apa yang kita raih selama ini jangan dirusak dan siapapun yang menang adalah putra bangsa. Menang dan kalah dalam pemilu, adalah suatu hal yang biasa saja. Siapapun yang terpilih, sejatinya tidak menimbulkan permusuhan,” tutur dia.

Hal senada dikatakan Mu'ti. Ia optimistis Pemilu berjalan baik. Menurut dia, rakyat Indonesia sudah semakin dewasa. Bahkan, rakyat sulit dipengaruhi politik uang dan janji pemberian harta benda.

Sementara itu, Said Aqil mengatakan, Indonesia adalah negara damai yang berideologi Pancasila. Ideologi Pancasila sudah final.

“Indonesia bukan dari Islam, bukan dari kafir, tapi negara damai,” tambah dia.



Sumber: Suara Pembaruan