Cara Asyik Melawan Politik Identitas

Cara Asyik Melawan Politik Identitas
Henry Manampiring ( Foto: investor daily / novy lumanauw )
Novy Lumanauw / WM Selasa, 16 April 2019 | 22:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sebagai praktisi komunikasi dan periklanan, ketertarikan seorang Henry Manampiring pada pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) lebih besar dari sekadar aspek politiknya. Henry juga kreatif dalam usahanya membujuk para pemilih untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Apa yang menarik baginya tahun ini?

Dalam perbincangan dengan sejumlah media di Jakarta, pada Selasa (16/4/2019), Henry mengungkapkan bahwa pada tahun ini, ada istilah kekinian di panggung politik nasional, yaitu apa yang disebut ‘politik identitas.’

“Konon, tahun ini politik identitas menjadi lebih sengit dibandingkan masa-masa sebelumnya. Calon presiden, partai politik, atau calon legislatif berusaha mengklaim lebih mewakili identitas tertentu. Dan, yang paling dan sedang populer adalah menggunakan identitas agama,” kata Henry.

Kesukuan dan etnis juga digunakan, bahkan menggunakan etnis tertentu sebagai kambing hitam untuk menjatuhkan lawan politik. Henry mengaku, dulu sempat jengkel dan mengharapkan sebuah dunia utopis, di mana pesta demokrasi bisa bebas dari politik identitas.

Di mana para konstituen bisa mengevaluasi pilihan politiknya dengan rasional, berdasarkan rekam jejak kinerja nyata, berdasarkan program kerja yang ditawarkan, dan lain-lain. Tetapi ya itu, namanya dunia utopis, hanya ada di ranah konsep dan teori. Mungkin baru kejadian di lebaran unicorn, boro-boro "lebaran kuda".

Selain itu, politik identitas rasanya tidak akan pernah punah, karena spesies manusia akan selamanya membutuhkan “identitas”. Kita ingin menjadi bagian dari “kelompok”, “grup”, apapun definisinya, karena kita adalah makhluk sosial dan baperan kalo berasa gak ada temen.

Jadi, politik identitas tidak akan pernah punah, apa yang bisa dilakukan? Ternyata alih- alih memaksa “melenyapkan” politik identitas, kita justru harus IKUT menggunakan politik identitas. Tetapi politik identitas yang lebih asik! Dan ini yang dilakukan para simpatisan Jokowi dalam mengundang publik untuk menghadiri Konser Putih Bersatu, pada 13 April 2019, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Beberapa hari sebelum konser digelar, mulai beredar undangan elektronik yang mengatasnamakan komunitas lucu-lucu. Beberapa yang sempat berlalu di linimasa kita bersama adalah Yayasan Perempuan Takut Pulang Karena Taperwer Nyokap Ketinggalan Lupa Di Mana, Paguyuban Korban WA Cuma Di-Read Doang, Klub Orang-Orang Cemas Liatin Di- Disambung Atau Dipisah, Komunitas Makan Harus Ada Krupuk, Skuad Mamah Kece Penghuni Kedai Kopi Sekitar Sekolaan, dan entah puluhan “komunitas” lain yang terkesan absurd tapi beneran nyata ada.

“Bagi saya, inilah cara berkomunikasi dengan “politik identitas (yang lebih asik)”. “Identitas” tidak harus menjadi kaku dengan hanya definisi SARA. Justru penggunaan identitas SARA bisa dilumpuhkan dengan begitu banyak identitas lain yang sebenarnya ada dalam kehidupan nyata. Contoh paling dekat ya saya sendiri kalau makan gak bisa kalau gak ada krupuk. Ini yang kita sebut nyata,” lanjut Henry.

Tim kreatif Konser Putih Bersatu bisa menciptakan begitu banyak identitas baru yang dijamin bisa merangkul semua orang. Dan ini menjadi antidot bagi politik identitas konvensional yang garang, penuh kecurigaan, kemarahan, dan kebencian.

Politik identitas Konser Putih Bersatu mengundang senyum, tawa, interaksi dengan publik. Tidak heran e-poster komunitas-komunitas unik ini menjadi disebar-luaskan secara organik.

Melawan politik identitas ternyata bisa dilakukan justru dengan ikut melakukannya. Tetapi melakukannya dengan cara yang kreatif, humoris, dan tetap humanis – dengan kata lain, politik identitas yang lebih asyik.



Sumber: Investor Daily