Sandiaga: Pemilu 2019 Bersejarah bagi Indonesia

Sandiaga: Pemilu 2019 Bersejarah bagi Indonesia
Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno (kedua kiri) didampingi istri Nurasia (kiri, ibu dan kedua orang tuanya usai menggunakan hak suaranya di TPS 002, Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (17/4/19). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: beritasatu / defrizal )
Robertus Wardi / FMB Rabu, 17 April 2019 | 09:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Uno menilai Pemilu 2019 adalah sangat bersejarah bagi Indonesia. Pasalnya untuk pertama kali digelar secara serentak antara Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres).

"Ini pengalaman bersejarah karena ini pertama Pileg dan Pilpres. Waktu Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, kita bisa cepat kan satu kertas suara, di sini ada empat dan kalau di daerah ada 5," kata Sandi usai menggunakan hak suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 02, Jl Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2019) pagi.

Bersama kedua orang tuanya, Sandiaga nyoblos di TPS bersama istri Nur Asia Uno, ditemani ketiga anak mereka.

Ia meminta kepada para pemilih untuk datang lebih awal ke TPS. Pasalnya kertas suara yang dicoblos ada lima. Calon anggota legislatif yang tersedia juga sangat banyak. Dengan kondisi tersebut, dibutuhkan waktu yang cukup dalam mencoblos.

"Jadi saya kembali mengimbau masyarakat untuk datang ke TPS seawal mungkin, sesegera mungkin agar waktunya cukup. Saya semenjak datang, antrean tidak terlalu panjang, sekitar 45 menit - 1 jam. Jadi untuk anisipasi panjangnya antrean dan cuaca. Sekali lagi saya mengimbau yang di wilayah Indonesia Tengah dan Barat segera ke TPS untuk memastikan hak pilih digunakan," kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini.

Dia berharap pemilu berjalan lancar dan aman. Dia berbahagia karena ‎di pengujung kontestasi demokrasi ini, masyarakat hanya berbicara ekonomi yang mempersatukan.

"Ekonomi yang diinginkan masyarakat untuk dikelola lebih baik, lapangan pekerjaan dibuka, biaya hidup masyarakat sehari-sehari menjadi diskursus. Kami yakin diskursusnya sangat mempersatukan kita," tuturnya.



Sumber: Suara Pembaruan