Dari 119 Napi Teroris, Hanya 6 yang Nyoblos

Dari 119 Napi Teroris, Hanya 6 yang Nyoblos
Tahanan Polda Metro Jaya melihat daftar calon anggota legislatif sebelum mencoblos. ( Foto: Beritasatu.com / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / FMB Rabu, 17 April 2019 | 13:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dari 119 tahanan teroris, enam orang menyalurkan hak suaranya dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, di Tempat Pemungutan Suara (TPS) Khusus Ruang Tahanan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya. Anggota Densus 88 Antiteror turut membantu pengamanan.

Kasubdit Pemeliharaan dan Perawatan Tahanan Direktorat Tahanan dan Barang Bukti Polda Metro Jaya Kompol Andi Rusdi mengatakan, tahanan yang menyalurkan hak pilihnya antara lain tahanan narkoba, teroris, tahanan titipan Bareskrim, dan tahanan titipan KPK.

"Kalau napiter (narapidana teroris) ada 119, tetapi yang diberikan hak hanya enam orang. Karena napiter itu dari awal kita sudah mengumpulkan DPT, mereka tidak berkenan. Kita sudah berikan batas dari dulu yang memberikan NIK itu, yang animonya ada hanya enam orang, sehingga yang ikut kegiatan ini hanya enam orang," ujar Andi, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (17/4/2019).

Dikatakan Andi, semua pemilih di TPS Khusus merupakan tahanan. Sementara, petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) berasal dari sipil.

"Pemilih tahanan semua. Ada napi, ada tahanan. Kita ikut menjaga dan memfasilitasi hak pilih mereka. Walaupun rumah kita, tetapi ini independensi dari KPPS. Kita di sini hanya menjaga, dilengkapi Brimob, Densus 88 karena ada teroris," ungkap Andi.

Menurutnya, sebanyak 103 personel dilibatkan untuk melakukan pengamanan di dua TPS Khusus di Mapolda Metro Jaya.

"Full 103 orang dibagi dua TPS, dalam lingkup pengamanan ditambah personel Brimob enam orang dan Densus 88 ada satu unit itu sekitar delapan orang," kata Andi.



Sumber: BeritaSatu.com