16 Penyandang Disabilitas Mental di Yayasan Galuh Bekasi Mencoblos

16 Penyandang Disabilitas Mental di Yayasan Galuh Bekasi Mencoblos
Belasan penghuni Panti Rehabilitasi Orang dengan Gangguan Jiwa di Yayasan Galuh mencoblos di ‎TPS Keliling, Rabu (17/4/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Mikael Niman )
Mikael Niman / WM Rabu, 17 April 2019 | 14:55 WIB

 

Bekasi, Beritasatu.com - Sebanyak 16 penyandang disabilitas dengan gangguan jiwa melaksanakan hak pilihnya di Panti Rehabilitasi Orang dengan Gangguan Jiwa Yayasan Galuh, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Rabu (17/4/2019) siang. Mereka terdaftar memilih dengan menggunakan formulir A5 atau pindah tempat pemungutasan suara (TPS).

"Ada 16 orang yang menggunakan hak pilihnya," kata Petugas Pengawas Pemilu (Panwaslu) Sepanjangjaya, Nurhayati di Yayasan Galuh, Rabu (17/4/2019).

Dia mengatakan, rata-rata pemilih di panti sosial tersebut dianggap memenuhi persyaratan untuk memilih. Selain, memiliki formulir A5, mereka juga dapat berkomunikasi, mendengar dengan baik. "Ada satu orang yang mencoblos di luar batas waktu yang ditentukan, jam 13.00 WIB, kami sepakat untuk menganulir satu orang tersebut," tuturnya.

Dia menjelaskan, pihaknya mengawasi pencoblosan di Yayasan Galuh yang berasal dari 3 TPS yakni TPS 19 sebanyak 3 pemilih, TPS 21 sebanyak 3 pemilih dan TPS 116 sebanyak 10 orang‎. "Semuanya menggunakan formulir A5," ujarnya.

Dia melanjutkan, kendala yang dihadapi petugas KPPS di lokasi antara lain, cara melipat kertas suara yang harus dibantu oleh petugas. "Hanya cara melipatnya saja yang dibantu oleh petugas, ‎selebihnya, apakah mereka paham atau tidak, saya tidak tahu," ujarnya.

Awalnya, pengurusnya Yayasan Galuh, mengumumkan ada sekitar 15 pemilih yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) dan 10 orang yang menggunakan formulir A5 di Yayasan Galuh. Namun, hanya 16 yang melaksanakan hak pilihnya. "Surat suara yang dibawa petugas di TPS masing-masing, memang kurang," ‎bebernya.

Pencoblosan dilakukan mulai pukul 12.42 WIB selesai pukul 13.43 WIB dengan pengawalan anggota kepolisian berseragam lengkap di lokasi. Selanjutnya, surat suara akan dihitung di TPS masing-masing.

"Perhitungan suara di TPS masing-masing dan tidak ada perbedaan (dengan pemilih lain), semua dicampur dengan pemilih lain di TPS masing-masing," tuturnya.

Disayangkan

Sementara itu, Pengurus Yayasan Galuh Jajat Sudrajat menyayangkan ketidaksiapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bekasi, melaksanakan TPS Keliling di Yayasan Galuh. "Kami sayangkan, tidak ada kotak suara, paku untuk mencoblos serta bantalan coblosan. Ini semua dicari secara spontan dan seadanya," ujar Jajat.

Kotak suara yang semestinya berasal dari KPU, di lokasi ini hanya menggunakan ‎kardus bekas, lalu paku coblosan menggunakan obeng kecil.

"Saya melihat ketidaksiapan KPU menyelenggarakan pemilihan di lokasi ini," kata Jajat.

Selain itu, sosialisasi terhadap tata cara pemilihan tidak pernah dilakukan di Yayasan Galuh.

Sebelumnya, Ketua KPU Kota Bekasi, Nurul Sumarheni, mengatakan sebanyak 143 orang gangguan disabilitas mental‎ mendapat hak pilih dalam Pemilu 2019 ini.

Mereka ini terbagi dari dua yayasan panti sosial yang ada di Kota Bekasi yakni Yayasan Galuh dan Yayasan Zamrud di Mustikajaya.‎ "Formulir C6 sudah kita kirim ke yayasan tersebut," imbuhnya.



Sumber: Suara Pembaruan