Capres Harus Siap Menang dan Kalah

Capres Harus Siap Menang dan Kalah
Presiden Joko Widodo (tengah) menerima surat suara sesaat sebelum menggunakan hak pilihnya di TPS 008, Gambir, Jakarta, Rabu 17 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Yeremia Sukoyo / WM Rabu, 17 April 2019 | 17:17 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden di Pemilu 2019 harus menerima apapun hasil Pilpres 2019 yang sudah digelar hari ini, Rabu (17/4/2019). Menyikapi bergulirnya hasil hitung cepat, semua pihak juga diharapkan dapat menahan diri.

"Siapapun yang menang nanti. Baik incumbent atau penantang tidak boleh ada yang melakukan tindakan anarkistis. Apalagi menyalahkan yang menang," kata Pengamat Politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, di Jakarta, Rabu (17/4/2019).

Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, hingga saat ini pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin masing unggul sementara dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hasil quick count Litbang Kompas, Jokowi-Makruf bergerak dikisaran 54 persen dan Prabowo-Sandi 45 persen. Begitu juga hasil hitung cepat lembaga survei Indikator, Poltracking, dan Charta Politica.

Menurut Ujang, Pemilu 2019 merupakan proses demokrasi biasa yang berulang setiap lima tahun. Karenanya, semua pihak diharapkan bisa menerima apapun hasil yang diperoleh.

"Pemilu 2019 semua kontestan habis-habisan berkampanye. Tidak jarang kita temukan gesekan, nyinyiran, saling serang dan saling menafikan. Dalam demokrasi perbedaan pendapat itu hal biasa. Sekeras apapun perbedaan, yang penting tidak anarkistis," ucapnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu juga menilai, pihak yang menang tidak boleh sombong. Demikian halnya pihak yang kalah harus tetap lapang dada.

"Semua ada jalurnya. Jika ada keberatan dari yang kalah, jalur hukum adalah yang terbaik. Pilpres hanya rutinitas lima tahunan biasa. Pasti ada yang menang dan ada pula yang kalah," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan