Ini Alasan Jokowi Unggul Dibandingkan Prabowo di Quick Count

Ini Alasan Jokowi Unggul Dibandingkan Prabowo di Quick Count
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kanan), memasukan surat suara usai menggunakan hak pilihnya di TPS 008, Gambir, Jakarta, Rabu 17 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Erwin C Sihombing / YUD Rabu, 17 April 2019 | 17:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Charta Politika telah menyimpulkan pemenang Pilpres 2019 adalah pasangan Jokowi-Ma'ruf berdasarkan hasil hitung cepat di 2.000 TPS. Hasil quick count yang dilakukan Charta Politika menunjukkan Jokowi-Ma'ruf meraih 54,35 persen suara sedangkan Prabowo-Sandiaga mengantongi 45,65 persen suara.

Manajer Riset Charta Politika Ahmad Baihaqi meyakini, dengan total 81,47 persen data yang masuk, hasil perolehan suara tersebut tidak akan berubah dan menunjukan Jokowi memenangi Pilpres 2019. Penyebab menangnya Jokowi adalah kemampuannya menggerus suara Prabowo di basis-basis massa seperti di Jabar, Banten dan DKI.

"Kami yakin perolehan suara dan data ini tidak berubah. Keunggulan pasangan 01 adalah mampu menggaet suara di basis lawan. Sebaliknya pasangan 02 tidak terlalu kuat menarik suara di basis lawan," kata Baihaqi, dalam konferensi pers hasil hitung cepat Charta Politika di Hotel Grandhika, Jakarta, Rabu (17/4/2019).

Charta Politika menggunakan sampling dari 2000 TPS yang dilakukan secara acak dengan metode stratified cluster dengan margin of error kurang lebih -1 persen dan tingkat kepercayaan 99 persen. Sedangkan jumlah DPT nya mencapai 190.779.969.

Dengan data tersebut, Baihaqi mengakui jumlah raihan suara masing-masing capres-cawapres pada Pilpres 2019 tidak jauh berbeda dari hasil resmi KPU pada Pilpres 2014 yang menetapkan pasangan Jokowi-JK meraih 53,15 persen suara sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa hanya meraih 46,85 persen.

Penyebab menangnya Jokowi di 2019, yang menjadi pembeda dari Pilpres 2014 adalah militansi pendukungnya yang berhasil merebut simpati di basis-basis lawan. Alhasil Jokowi mampu mendapat suara signifikan di Jabar maupun di DKI.

"Di DKI selisihnya hanya 1 persen. Jokowi unggul di Jatim dan Jateng. Di Jateng bahkan menang telak. Sedangkan di Jabar yang menjadi basis 02, dengan jumlah pemilih yang besar, pasangan 01 bisa mendapat suara," tuturnya.

Hitung cepat Charta Politika menunjukkan Jokowi menang di 16 wilayah antara lain di Jatim, Jateng, Lampung, Papua, NTT, Bali, DIY, Papua Barat, Kalbar, dan kalteng. Sedangkan Prabowo unggul di 18 wilayah yakni Jabar, Sumut, Banten, DKI, Riau, Sulteng, Aceh, Maluku, NTB, Sumsel, dan Sulsel.

Sekalipun Prabowo unggul di 18 wilayah, suara yang diraih tidak sebesar Jokowi di 16 wilayah, "Keunggulan 01 karena militansi pendukungnya meraih suara di basis lawan dengan jumlah pemilih yang tinggi," kata Baihaqi.



Sumber: Suara Pembaruan